"Merangkai kata dalam tiap perjalanan hidupku"

Sunday, April 30, 2006

Opening my Poems


Ini puisiku
Syair yang menulis dirinya sendiri
Menulis yang terukir dikedalaman hati
Kucungkil dan kuhaluskan di lembar-lembar kosong
Dipilar-pilar baris yang lebih elok menjangkau langit
Dalam mysterinya sendiri mengucap keabadian
Huruf-huruf tersaput kabut

Puisiku lahir dari kata-katanya sendiri
Dari keindahan senja dimatahari terbenam
Meski kuingin terus menanam
Dijalan tak usai di mimpi tak kesampaian
Aku berlompatan…
Mungkin disanalah puisiku
Berkibar di panji-panji langit, pada do’a-do’aku
Pada jiwa tekun mengaji

Puisiku bermula dari kegetiran
Hingga do’a kuhambur-hambur
Dan kata-katanya adalah lidahnya sendiri
Jejak dari orang-orang terdahulu
Sebagaimana ini warisanku
Sesederhana apapun bahasanya…

Kutulis karya hatiku
Dalam coreng-moreng yang selalu latin
Karna hidup takkan bertitik
Dan untaian huruf inipun hanya draft belaka
Takkan sempurna akan terus berubah
Nafas ini kesayangan zaman masing-masing
Semoga puisiku buaian tiap masa
Meski agak buram
Maaf, tulisanku jelek amat…

Mungkin inilah jalanku
Diantara bertumpuk buku dan tulisan tak habis-habis
Didalam masjid merangkai lagi goresan
Ditiap dinding coretan berserakan
Tak lagi syair mabuk didunianya sendiri
Sedang dihati bumi penuh sepi
Tiap masjidku adalah bumi berkubah langit
I’tikaf dalam kata-kata terpilih
Untuk anak-cucuku kutinggal langkah
Harta karun tak habis-habis

Dengan izin Allah
Apa yang kutulis akan bermakna dan menjadi madu bersemayam ditiap hati
Namun Allahpun bisa membuat semuanya sia-sia
Kuserahkan segalanya pada-Nya…


Kredo

Tak perlu kau baca puisiku
Bila sekedar mengharap keindahan kata-kata
Sebab puisiku bukan kembang jalan
Puisiku bukan hiasan kamar
Puisiku penuh peluh, berasal dari luka-lukaku sendiri
Bahkan pedihnya tak sempat kuperban

Kuingin kakiku mampu berdiri
Beranjak dari keringkihanku sendiri
Meski dari langkah-langkah kecil
maka tinggalkan puisiku
Jika cuma terbuai kata-katanya sendiri
Tak ada silau keindahan disini
Sebab puisiku lahir dari jiwa tertatih
Masih merintih, mengaduh, gelisah
Tapi puisiku bukan rongsokan
Kuhaturkan jejakku pada Arrahman
Kepada-Nya segalanya kupersembahkan

Ini tentang kebenaran
Yang seringkali kalah oleh adonan-adonan istilah dan buku falsafah
Dibacakan sebagai puisi bagi perut lapar
Menjadi rumput kering bagi keledai
Apa arti wewangian?
Semoga bukan puisiku
Yang kucipta di kesepian
Syairku bukan sekedar hiasan
Hanya bagi-Nya takkan tersekutukan

0 komentar:

Tentang Penulis

My Photo
Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia
Silahkan kunjungi-kutip blog ini dan kunjungi blog utama saya di: http://arrohwany.multiply.com "Mohon masukan dan maaf atas sgl kesalahan & kekhilafan saya, dimasa lalu dan mohon ridha untuk kekhilafan saya di masa lalu dan yang akan datang" silahkan add di: arrohwany@yahoo.com

~**Arrohwany Personal Sites**~

The Best Selected Ebook Complete