My Poems

"Merangkai kata dalam tiap perjalanan hidupku"

Tuesday, December 23, 2008

"Puncak Semangat !"

Ingat umur[1] tinggal delapan tahun lagi

Tangan langsung mengepal erat....
Begitu bersemangat
Seakan-akan seluruh energi terhisab
Seluruh tubuh bergetar hebat...

Ingat kesempatan tinggal setahun lagi...

Seakan seluruh energi berpusar terhisab
Terkumpul begitu kuat
Seakan seluruh bumi tergenggam erat
Serasa tubuh ingin meledak..
Bernyala terang meledak-ledak

Semangattttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt!!!!!!

'i'tikaf...
(Saat menanti 'ashar shalat, saat-saat puncak semangat...)

"Yuk semangatttttttttttttttt!!"


[1] Umur kemudaan, puncak semangat dan fitalitas (biasanya sampai 35 tahun)

Wednesday, June 25, 2008

MOTIVASI

Thursday, January 10, 2008

Live and Humanisme

Disinilah cinta


Disinilah cinta
Cinta selalu hadir disini
Pada tangan tengadah rapuh dan hati anak yatim
Bukan cinta yang membuai di telenovela
Dan bukan cinta yang singkat di mercedes benz
Hidup selalu hadir
Memberi pada yang mau menerimanya
Dengan tangan ataupun ratapannya
Memilih lapar, bahagia ataupun kesemuanya
Pada deret waktu yang sama
Ada tumpukan bahagia yang sama
Kita pilih mana!


Sesal

Kau tatap hampa
Matamu kosong tak berkata-kata
Tercekik usia tanpa bisa menyesal lagi
Tanganmu menggelepar
Tercekam dari segala sudut
Tak perlu lagi makna takut
“Pergilah kau kemasjid!”


Mungkin Beginilah

Mungkin kelak beginilah
Nanti aku jadi bapak-bapak sibuk mengurus anak-anak
Peluk-cium hanya rutinitas
Kening istri jadi hambar
Pagi benar bepergian pulang tanpa melihat matahari
Haruskah begini?
Kurindu lagi senyumku kanak-kanak
Jiwaku kanak-kanak


Ombakku

Seorang shahabat menanyaiku…
“Ketika ombak menghantammu, bagaimana kamu?”
aku, aku… (terbata-bata)
Aku kadang kayu terombang-ambing
Kadang aku berselancar
Kadang pula kucoba menjadi karang
Ombak memang selalu menyapaku
Tapi ini darah karangku
Tlah jauh menjadi batu
Menebar atol…


Apakah Terjaga

Kususun keresahan
Ternyata malam inipun tak terperikan
Kata-kata tlah kuserahkan seluruh
Meskikah diri ini tak bersisa!
Akupun kini entah dimana
Dimana-manapun sepi rasanya…
Aku!
Siapa ya?


Sinar matamu

Ada bayang-bayang hidup dimatamu
Memancar sinar menyilaukan
Ada yang bilang itu keteguhan
Ada pula yang bilang itu bertekun untuk menang
Tapi itulah kau
Semangat yang memancar
Pekik jiwa bergema adzan
Berpikir besar layak jadi orang besar
Dan Allah-lah Yang Maha Besar


Penyesalan

Banyak sekali gemuruh didada
Menyesak hendak buncah
Lalu kusebrangi jarak dan waktu menjebol tembok angkuh
Sayang, langkah tlah tercecer
Diatas aku hanya terengah-engah…
Menatap langit-Mu
Aku sendu…


Mulai Dari yang Kecil

Mari bersyukur dengan yang kecil-kecil
Sebab sepanjang pantai adalah pasir
Takkan bisa membendung badai
Bukan pula lautan
Meski kita air
Layak berpikir samudra
Bukan kapal karam…


Generasi Buram

Bila cinta putihpun gugur
Setelah sekejap melayang-layang dipelukan
Kau lepas syurga-syurgamu
Seakan nyawa retas itupun milikmu
Diluar batas tingkahmu merayu-rayu
Ditangan kekar yang memaksamu
Dipelukan bejat mata-mata liar
itukah generasiku?
Yang meratapi perut membesar dari pada dosa
Yang tekun merawat wajah bukanya ibadah
Seakan agama tertumpuk dibawah sajadah
Tak sebanding dengan promosi shampoo besar-besaran
Oh adik-adikku
Cukuplah akhiri kebodohan kami
Pelajari saja hidup ini
Susun sendiri masa depanmu
Dengan alquran ditanganmu…


Lelah

Kuhela nafas panjang dipendakian
Tangis tlah kutikam
Kuseka peluh-peluh bercucuran
Jangan paksa aku bercerita tentang nasib
Tantang aku kalau berani!
Biarlah nasib kesenyapan masing-masing
Ditekuk berlipat-lipat
Ketagihan ditengah padang
Dan kubuka buku kisah tiada akhir…


Hutan Pencakar langit

Kita semakin buta
Didunia yang terlalu rapuh
Tak bisa melihat orang-orang dijalanan
Hanya tersisa senyum-senyum hambar
“Silahkan beli tuan”, Kata pramuniaga
Apakah aku yang terlalu bodoh
Didunia cakar-mencakar ini cuma ada macan
Biarkan saja bau anyir darah
Apakah sesombong ini gedung-gedung kota
Setahuku ini rimba belantara
Oh ya, di sana ada kera
Pakai dasi, salah tingkah pula…


Siapa Orang Kaya

Orang kaya adalah engkau
Kau titip harta dan hati pada orang faqir
Diperut-perut anak yatim
Pada penghidupan para dhu’afa
Kau tanam pula senyum ditangan-tangan pengemis
Kau beri yang terbaik
Hatimu…
Pada yang berhak


Jabat Tangan Jujur

Kupinta jabat tangan jujur
Jauh di pedalaman tanpa gaduh
Biar kulelap menatap
Betah dimatamu
“Tidurlah”, Katamu ramah
Dan aku mulai bersungut


Masih Bersisakah Cintaku

Masih adakah cinta kasih dihati kita?
Atau hanya senyum dengan otot berat
Pagi berkeluh keringat pulang dengan menguap
Dimanakah belai hangat?
Setelah senyum terpotong-potong
Pada pembeli berkantong
Masih bersisakah moral?
Setelah senyum itu tugas
Di otak hanya ada tingkat keuntungan
Diwajah penuh statistik…


Tak Perlu Paksa Aku

Jangan kau paksa aku
Tangan yang terpekur
Jangan seret aku berkemas-kemas
Awan masih berserakan
Bianglala melambaikan tangan
Dengan lidahku pelan, kuucap “Selamat datang masa depan…”


Tanya Masa Keciku

Coba lihat sikecil itu
Telah terdidik dengan suara-suara putus asa
Jika ia bertanya…
“Ah kamu masih kecil, jangan usil!”’ jawab itu ia dapatkan
Dia menanyakan tentang kebenaran
“Dimanakah kedamaian bapak-ibuku?”
Kutanya dikeramaian hanya ada gaduh
Kegelisahan tertempel ditiap wajah orang dewasa
Senyum penuh pura-pura
Apakah aku akan seperti mereka?
Jawablah bapak-ibu…
Kenapa diam!
Aku merepotkan ya!, (anak itu takkan tanya apa-apa lagi)
“Biar kucari jawabnya sendiri”, gumamnya
Sekarang asyik bermain lagi


Rindu Cahaya

Begitu cinta aku pada cahaya
Yang cerahnya melebihi sejuta bunga
Lagu berdesir di serambi hati
Kucium disana bidadari cemerlang
Dari pagi hingga petang
Di salju rindu terkungkung
Bukan sekedar rintik hujan dari menara
Salam yang menjadi asal-mula
Jarimu melekat dibibir
Tak perlu lagi kata bagi hati tlah mengatup cahaya
Berlanjut di perjamuan panjang
Mengukir warna di bunga-bunga
Dan tentang selimutmu malu-malu
Peganglah erat tanganku
Meski kau masih membisu
Bukankah langit makin membiru
Diawan kita berlari-lari


Berkemas-Kemas di Padang

Aku berkemas-kemas di padang
Di hati yang gersang
Di kegelisahan luas membentang
Akankah kau undang kemarau
Sedang ini bukan sekedar sunyi nasib
Dimalam-malam dingin menggigil
Engkaupun tahu aku tlah jauh berpetualang


Hidup Terlalu Murah

Maaf, hidup terlalu murah
Tak layak dipromosikan
Biar orang hidup dalam kepengapan masing-masing
Biarlah buku-buku amis
Ulama’-ulama’ditentang
Tak ada lagi persembunyian
Tak berani lagi menyongsong perubahan
Sedang kebebasan bagi mereka tak pernah pulang
Hidup seakan tulisan, cukup dihafalkan
Terbatuk-batuk karna terlalu usang


Shahabat

Kala harus berpisah
Tak perlu air mata
Tlah kita pancung janji di langit
Bukan lirik bait
Kita adalah seluruh halaman
Semua menang dan hati kita lukisan
Kutampar kau penuh senyuman
Kadang jadi musuh kadang pahlawan
Meski darah kita terteteskan
Hilang tersapu angin…
Kita pengembara dengan bidadarinya masing-masing
Tanpa perlu lencana
Karna kita selalu berpiala…


Ibu

Ibu…
Meski dengan apa kubayar
Perih lukamu tak mungkin aku rasakan
Kasih sayangmu tak bisa kubandingkan
Oh ibu, engkau bukan sekedar lautan
Engkau berlaut-laut melebihi lautan
Sedang buih satu lautpun aku takkan bisa menghitung
Apalagi kasih-sayangmu…
Aku hanyalah anak sungai yang coba membawa air tawar
Meski takkan penuh-penuh
Baru ini yang bisa kuberikan
Maaf bu, terlalu sedikit…


Ku ingin Rembulan

“Ayah, ceritakan padaku…”
“Mengapa matahari muncul dipagi hari dan pulang disore hari”
“Ayah, apakah matahari itu laki-laki dan bulan itu perempuan hingga ada siang ada malam!”
“Ayah, aku suka bulan”
“Katanya disana tinggal seorang bidadari aku ingin melihatnya”
“Ayah, bidadari itu cantik seperti ibu ya!”
Lalu anak itu melempar sarungnya keatas
Mengira bulan akan terkurung dan jatuh padanya
Berkali-kali
Tertawa-tawa sendiri
Lalu berguling-gulingan
Dan melompat, satu, dua, tiga!…
“Awas kau bulan setelah besar akan jadi milikku!”…, Kata hatinya


Sesal dari Jurang

Ini suaraku parau
Dari daun jatuh bersama angin
Kebumi menghapus luka lama
Bergema bersahutan ditepi jurang
Mencipta bait -bait menakutkan
Menjemput rintik hujan sesal
“Bukan aku yang terkutuk!”
Aku cuma salah mengirim bunga
Bukan pagi membawa dosa
Telah kusia-siakan masa muda
Sesal kini diterkam senja
Meratap dijantung angin…


Pohon Rindumu

Sampai sudah janjiku
Masa lalu tlah kujahit rindu
Tergantung-gantung dipohon
Menunggu kelelawar petang hari
Setinggi rindang pohonmu
Digaris merah bibirmu
Kurangkai janur-janur sanubari
Menghiasi do’a-do’aku…


Setelah Aku Gugur

Darahku mulai luntur
Dijantung hinggap sehelai daun gugur
Dinadi kau bersenandung
Akankah nafasku sampai putaran matahari tak lagi dari timur!
Meski tak berharap amalku semur tongkol jagung
Sibuk merawat kebun
Menyirami dengan embun
Sejenak setelah aku gugur
Kuingin semua makmur…


Tegar

Malam memang tak pernah janji
Tapi kau yang mendesakkan mimpi
Sungai menari angin kau curi
Di rimba-rimba kau alirkan darah
Sebelum salju menjelma kau didihkan ia
Sekuntum luka kau coret disana
Dengan keras menepuk dada
Berlayar digenangan darah memerah
Dengan sekental anyir nanah
Aku pasrah….
Tetap tegar bernyala merah


Dunia Malam

Oh malam yang tlah luka karna pelukanmu
Kau buang sunyi di trotoar berajijai di pub diskotik
Mewarnai angin
Dengan segala warna tanpa roh
Jasadmu kemarau menari-nari
Kau tertawa mabuk, bukan hidup yang kau pilih
Mencipta kecup malam tak berbekas
Berbaring-rebah dilirik rembulan
Tak malu kau nikmati malam dan bingung kau lahirkan
Tangismu pecah jadi kisah lama
Akan pula kau wariskan air mata ke bak sampah
Kau ajari menuai malam
Dan desahnya lebih lincah
Tak tahu bapak dagingnya yang mendesah…


Sepi Zaman

Jangan buru aku
Biarkan aku yang memburumu
Kutinggalkan kau di kampung halaman
Di padang kau menunggu
Maafkan aku sepi zaman
Dihati aku sibuk menenun…


Merantaulah

Pergilah kalian
Tanah ini tlah lama jadi milik orang
Tak ada sawah akan kau cangkul tak ada kandang perlu kau bersihkan
Pada cangkul tak terlalu akrab
Pada gadis desa tak terlalu cinta
Menjadi anak yang mana!
Tempat tanganmu berpegang kakimu mengayuh
Pergi saja kalian…
Cari duniamu sendiri


Cintamu Ibundaku

Cinta…
Begitu mudah layu
Namun cintamu bu…
Adalah sekuntum bunga abadi
Takkan layu-layu

Kembang cinta ini punyamu bu
Kau tanam dan terus mekar didada anakmu
Menjadi benih kasih baru
Karna wibawa cintamu ibu takkan pernah pudar…


Maaf Ibu

Oh ibu…
Aku bukan lagi anak kecil
Jangan lagi kau timang-timang dengan air matamu
Oh Ibu,… itu sungguh tak layak
Tak tega aku bu…

Ibu…
Jangan lagi kau anggap aku seperti anak nakal dulu
Begitu sayang hingga aku malu
Seakan aku hanya layak bermain
Padahal sudah tak terhitung lagi apa yang kulakukan dengan tangan ini

Maaf ibu…
Mungkin ucapku tak sopan
Namun engkau tahu tanganku begitu kasar
keras mengapal
Sudah tak terhitung lagi derita dijamahnya
Hingga tampak darah memucat
Ini jerih payahku bu…
Meski pakaianku tetap lusuh
Jangan tanyakan itu bu,… aku tak mungkin sanggup mengatakanya padamu
“Aku sudah besar bu”, Hanya itu jawabku

Oh ibu, maafkan aku
Didunia ini aku begitu anak kesayanganmu
Sedang diduniaku sendiri aku hanya tukang batu…


Pohon Aku

Karena pohon aku tlah kita tanam
Maka kini kita sibuk mencari diri yang hilang
Menggali kesempatan di pekarangan
Hingga gugur daun harap kekeringan
Dimana akar-akarnya tergali
Dan dimana tempat sumber air
Kesejukan makin jauh

Di pohon diri kita bertengger burung berkicau
Mungkin dibening suaranya itu peta
Kita harus menyimaknya
Segera terbang bersamanya…


Tuk Shahabat

Aku mencintaimu sahabat-sahabatku
Begitu jugakah kau!
Cinta yang meregangkan angin, cinta yang tak perlu maaf
Maaf sahabatku…
Mungkin tak seindah itu
Aku di matamu mungkin bukanlah aku

Shahabatku, maaf …
Aku bukan kepintaran atau kesabaran
Aku sebongkah tanah membatu dari lumpur mengering
Masih banyak lagi bongkah selain ini itu
Lalu siapa pula aku?
Aku yang tercecer adalah serpihan bongkahan itu
Sedang bongkahan lain menjadi apa, siapa aku tak tahu…
Tanah tlah tersebar

Diantara banyak diri yang hilang, saat ini mungkin bukanlah aku
“Telah musnah di keabadian”, kukatakan
Aku tanah-tanah hitam, kering, dengan debu-debu menempel
Aku harus bekerja keras untuk memerah air yang kumampu
Menjadi kemurnian asalku
Sebab kerinduan sudah tak tertahan lagi
Semoga aku menjadi hamba yang sebaik-baiknya ditiap helai nafasku


Tiap Hari Adalah Keasyikan

Tiap hari itu keasyikan
Dan hari ini adalah hari-hari terindah
Saat-saat mengukir hidup
“ I n I h a r i t e r b a I k k u ! ”, kataku mantap
Ini hari tempatku berkuah peluh
Tempatku bersujud khusyu’
Mempersembahkan yang terbaik

Inilah hari-hari perjuanganku
Setelah hari-hari kelam
Inilah kesempatanku
Tempatku membasuh dosa
Tempatku merangkai kecemerlangan
Saat-saatku berkesungguhan
Ini hari kemewahanku
Takkan aku sia-siakan…


Biarkan Jiwa yang Menyeruputnya

Silahkan saja saudara menambah gula
Hidup akan jadi lebih manis
Silahkan tambah lagi sesukanya
Takkan ada yang benar-benar pahit didunia
Biarkan jiwa yang mencicipinya

Jangan biarkan mulut kita meneguknya
Lidah tak mudah dipercaya
Lidah, mata, dan telinga telah dibutakan sejak semula
Seakan hidup tinggal ampasnya
Padahal kopi manis yang diseruputnya

Nikmati saja jiwa kita
Meresapi segala pahit itu karunia
Tiap segala itu anugerah Allah belaka


Wajah penuh gejolak

Dibiru embun matanya
Seraut wajah penuh gejolak
Masih seperti dulu mata itu…

Matanya adalah gemuruh
Yang terus menyala menggoncangkan hati
Bagaimana aku bersimpati!…

kesunyiannya pekat dari pedalaman
Kegersangan rawa-rawa muda
Mula bertatap jiwa kami
Berhambur kami, ia kudekap
Haru yang pecah kini kembali
Berulang kudengar senandung rindu sunyi
Kubasuh luka pedih-perihnya…


Bagilah Dukamu

Aku mencintaimu jauh dipedalaman
Ditepi helai nafas
Terus terkenang
Aku merinduimu jauh dari ketinggian
Mereka-reka apa yang kau ingin apa yang pantas kuberikan
Walau awan terus berkabut
Kuturunkan tangga dari langit
Naiklah, lewat do’aku resah bagilah dukamu
Tunggu sebentar cahaya pasti datang


Maaf Buruh Bangunan
(Buat tetangga-tetanggaku dirumah)

Maafkan kami jika peluhmu itu air mata
Gemuruh dari dapur meminta terus menyala
Maafkan, kami mungkin tak sanggup memahaminya

Bukan apa-apa jika namamu takkan tertempel disana
Meski darahmu yang kau tanam
Karna nanti ada pejabat yang menekenya
Dan tak ada yang peduli banjir peluhmu
Biarkan angka-angka bulat yang akan membalasnya
Engkau tetap menjadi tumbal tanpa nama
Maafkan kami sekali lagi

Namamu takkan tergores disana
Di peradaban-peradaban batu…


Tv

Disegitiga empat dunia ini
Dongeng anak tlah usai
Diusir hingga keujung senja
Hingga tak sempat lagi waktu maghrib anak mengajii
Tak tersisa ruang mengkaji
Hilang kemana negri para alim
Tak ada bagi kekhusyukan
Tak layak lagi mainan dan lamunan
“Mau dijadikan apa kami?”

Mungkin kami disuguhi iklan menantang
Agar cepat besar dan segera jadi pelanggan
Film-film tawuran agar anak tak punya perasaan
Hingga kekerasan adalah kebudayaan
Pengganti Superman baru yang tlah hilang
Atau jadi suguhan berita pembunuhan yang menguntungkan
Berita kriminal sebagai komoditi hiburan
Atau keacara supranatural sebagai pelarian
"Kapan kami layak menonton TV?"

Wednesday, December 19, 2007

COMPLETE CURRICULUM VITAE

"...ألسلام عليكم ورحمة الله وبركته..." Selamat datang di halaman Pengguna
Muhammad Ulinnuha


Tanggal
Hari ini tanggal 19 Desember 2007.


Bahasa
id Pengguna merupakan penutur ibu bahasa Indonesia.
en-3 This user is able to contribute with an advanced level of English.
jv-1 Panganggé puniki gadhah kawruh dhasar basa Jawi.
ms-1 Pengguna ini boleh menyumbang dengan tahap asas dalam Bahasa Melayu.
ع Pengguna ini bisa membaca Abjad Arab.


Personality
Pengguna ini adalah seorang
laki-laki.
Pengguna ini adalah seorang bujangan.
Pengguna ini adalah seorang Muslim
Pengguna ini menggunakan kacamata.
Pengguna ini bukan seorang perokok.
Domisili
Pengguna ini berdomisili di Yogyakarta, Indonesia
Pengguna ini tinggal di Indonesia


Hobby
hijau Pengguna ini suka warna hijau
biru Pengguna ini suka warna biru
Pengguna ini senang membaca buku
Pengguna ini memantau setiap perubahan terbaru.
Pengguna ini adalah pecandu Wikipedia.
Pengguna ini sangat menyukai
kotak pengguna


Komputer dan internet
Pengguna ini dapat dikirimi surat elektronik melalui mailto:arrohwany@yahoo.com
Web Pengguna ini mempunyai sebuah situs web.
Pengguna ini adalah seorang blogger: arrohwany.blogspot.com.
Pengguna ini ingin berteman dengan Anda
Pengguna ini Menggunakan Y!M untuk berkomunikasi
Pengguna ini menggunakan Skype untuk berkomunikasi.
Pengguna ini menggunakan sistem operasi Linux OS
Pengguna ini menggunakan sistem operasi Microsoft Windows XP
Pengguna ini menggunakan browser Mozilla Firefox
Pengguna ini menggunakan browser Opera atau Opera Mini.
Pengguna ini belum mempunyai
BintangWiki
Sebuah Penghambaan
Tanda Tangan
Tanda Tangan

Muh. Ulinnuha (Demak, 12 November 1981) atau lebih dikenal dengan nama pena Arrohwany adalah seorang biasa-biasa saja. Santri biasa-biasa saja, mahasiswa biasa-biasa saja,karyawan biasa-biasa saja. Namun mempunyai tekad impian sebagai seorang hamba Allah yang sepatutnya, tidak ingin menyia-nyiakan segala yang telah Allah amanahkan kepada-Nya dan kesempatan yang diberikan selama di dunia. Menjadi hamba yang sebaik-baik dalam menghamba kepada-Nya dalam segala hal, berharap kehadiranya mampu membuat perbedaan di dunia ini, bersama-sama lebih baik.

Pada September 2007, Muh. Ulinnuha masih berposisi sebagai karyawan di Intersat yang berlokasi di Yogyakarta. Yogyakarta, tempat selama ini menimba ilmu dan mengasah ketrampilan selain di kampung halamanya Demak dan Situbondo Jawa Timur. Dan ia insya Allah menikah tidak lama di tahun 2007/2008 ini.

Daftar isi

[sembunyikan]

Personal Data

Nama Muh. Ulinnuha
Tempat, Tanggal lahir Demak, 12 November 1981
Jenis Kelamin Laki-laki
Status Pernikahan Belum Menikah
Agama Islam
Alamat Asal Jl.Guntur No.21 Rt.10/Rw.02 Kampung Karang Turi Desa Bogosari Kecamatan Guntur Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah Negara Indonesia 59565
Alamat Sekarang Jt.I/1177 Bumijo Lor Yogyakarta 55231
Contack Person 62274 7001741
Prive E-mail arrohwany@yahoo.com
Situs Pribadi http://arrohwany.web.id

Pendidikan

Pendidikan Formal

1988 - 1994 SD Negeri Bogosari II Guntur Demak, Jawa Tengah
1994 – 1997 SMPN I Guntur Demak, Jawa Tengah
1997 – 2000 SMU Ibrahimy Sukorejo Sumberejo Situbondo, Jawa Timur
2000 – 2005 Management Industry of STIE IEU Yogyakarta

Pendidikan Agama

1990 - 1996 MI Bogosari Guntur Demak, Jawa Tengah
1996 – 1999 MI Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur
1999 – 2000 MTs Ibrahimy Sukorejo Situbondo, Jawa Timur
2000 – 2005 Pondok Pesantren SalSaf Sukorejo Situbondo, Jawa Timur
2005 – ... Pondok Pesantren Minhajussunnah Magelang, Jawa Tengah

Pengalaman Berorganisasi

1998 - 2000 Manager of Education Department IKSASS Jawa Tengah
1998 - 1999 Committee of Operational ECSA (English Course)
1997 - 1999 Committee of Education LPBA (Bahasa Arab)
1998 - 1999 Manager of Education in Room PonPes Situbondo, Jawa Timur
2000 - 2002 Manager of PraySpirituality in FKMI
2002 - 2004 Manager of Keluarga Sakinah Department
2001 - 2003 Computer Supporter and Desain Graphic in PKMS
2002 Member of FLP (Forum Lingkar Pena) Yogyakarta
2003 - 2004 Manager of Kuliah Pra Nikah (KPN) part 1 and 2 PKMS, Yogyakarta
2003 - 2004 Manager of Kuliah pasca nikah (KPKN) part 1
2003 Committee of Syuhada Mosque 50th Birthday

Pelatihan Proffesional dan Seminar

1998 Traning of journalistic by IKSASS
1999 Traning of Management and Leadership by IKSASS
2000 AMT (Achievement Motivation Training) by Student Association of IEU Yogyakarta
2000 Computer and Office by IMKA Yogyakarta
2002 Syuhada Business Forum (Sbf) by PKMS Yogyakarta
2002 Traning of Quantum Learning by PKMS in Auditorium of Mandiri Bank Spoke Gondolayu Yogyakarta
2003 Traning of Secretary by PKMS in Bernas Yogyakarta
2003 Traning of Financial Management by PKMS in Bernas Yogyakarta
2000 – … Computer Self-education
2000 – … Learning on the web Computer and Enterpreneurship

Sertifikat dan Penghargaan

  • Committee of Training Secretary by PKMS
  • Committee of training Financial Management
  • English Advance from ECSA
  • AMT IEU Yogyakarta
  • Training of Journalistic by IKSASS
  • Training of Management and leadership by IKSASS
  • Computer and Office by IMKA Yogyakarta

Pengalaman Kerja

2003 Hardware Software Service in Piramida Computer Magelang (KKU)
2004 Control System and Computer in Trimitra Video Shooting Magelang
2005 Computer Support in Sunria Java Yogyakarta
2005 LAN and System Administrator in Cremona Rental Computer and Service
2003 - … Freelance Technical Service
2006 - … Operation Manager in Kaffah Virtual Network

Basis Komunitas dan aktivitas

2002 - … UAD TI Department generations of 2002
2000 - 2004 PKMS and Male Hostel of Syuhada’ Mosque
- Calamoa Hostel in Bumijo Lor Yogyakarta
- Nurul Huda Mosque and TPA Mifahul jannah
- UAD College Library, Amikom Library,and UGM Library
- Regional Library of Yogyakarta (Perpusda)
- Shopping, Gramedia and Social Agenty

Pengalaman Menulis

  • 2001 My Poems (Collect of my poems)
Spiritualisme and Pray, Heroisme and Patriotisme, Universalisme, Live and Humanisme, Love and Happy, Nature and Beauty, My Poems, My Sweet memory
  • 2001-2002 The Principles

Collections dedicated for spirit with poems motivated.

  • 2003 KKU Journal :

“Enterpreneurship study in Trimitra Video Shooting Magelang, Central java”

“Pengaruh Financial Leverage terhadap Expected Return Pada Bank-bank yang listing pada BEJ tahun 1998 -2003”

Collections of Fadhilah of Al-Quran and Al-hadist

  • 2005 Organizing My Life

Step by step effectivness management of my life (Blue Print and Organizing My Life)

  • 2005 My Tutorial

Collections of my tutorial for beginner about tips and trik using program under windows

Beberapa Hasil Kreativitas

Minimum Komputer Skill

  • Tips and trik using MS Windows
  • Complete using Microsoft Office
  • Trouble Shooting Technic
  • Hardware Installations, Software Installations and Maintenance
  • Fast installation Technic in Win9x with Image Technic
  • Modification windows
  • Service, Maintenance, and Tweaking
  • Design Graphic with Corel Draw and Photoshop
  • Simple Networking with MS Windows and Linux
  • Simple PC Clonning Technicand terminal server Technic
  • Linux with Xwindows
  • Training and course
  • Other Skill
    • IT Management and Budgeting
    • Web Database with Dreamwaver
    • Web Design and sites management
    • Simple DataBase Progam with Delphi
    • Video editing and vcd transver
    • Backup, recovery and security data
  • Have Equipments:
    • One bag (±20 pac) of Program CD and Linux CD Complete
    • Equipments to service

Hobby, minat, bakat dan keinginan

  • Making poems about beautiful of life and religius poems
  • Collect Linux CD (specially Live CD and mini linux for desktop)
  • Interest in psychologic science
  • Interest in child and social education specially religius educations
  • Interest in understanding of religius science
  • Motivation to the future with enterpreneurship

Pranala Luar


Arrohwany 04:25, 8 Oktober 2007 (UTC)

Friday, July 14, 2006

Aku rumputan

_(_)_ wWWWw _
@@@@ (_)@(_) vVVVv _ @@@@ (___) _(_)_
@@()@@ wWWWw (_)\ (___) _(_)_ @@()@@ Y (_)@(_)
@@@@ (___) `|/ Y (_)@(_) @@@@ \|/ (_) / Y \| \|/ /(_) \| |/ |
\ | \ |/ | / \ | / \|/ |/ \| \|/
Ulin \\|// \\|/// \\\|//\\\|/ \|/// \\\|// \\|// \\\|// "Menjadi rumputan, tak mudah tercerabut. Bersiap terus tegar, maju, berkembang..."
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Koleksi-koleksi Hiasan

Koleksi2 Hiasan

Kembang
(from Rindiawan)

......... , . - . - , _ , .......bunga ini
......... ) ` - . .> ' `( .......ku persembahkan
........ / . . . .`\ . . \ ........untuk
........ |. . . . . |. . .| ........yang terindah
......... \ . . . ./ . ./ .........
........... `=(\ /.=` .........walau
............. `-;`.-' ............tak'kan
............... `)| ... , ........nyata adanya
................ || _.-'| ........
............. ,_|| \_,/ ........ku yakin
....... , ..... \|| .' .............bintang pasti
....... |\ |\ ,. ||/ .............kan bersinar
.... ,..\` | /|.,|Y\, ............di dalam jiwa
..... '-...'-._..\||/ .............seseorang
......... >_.-`Y| ..............
.............. ,_|| ...............semoga
................ \|| ...........bunga ini
................. || ..........dapat menerangkan
................. || ...........di setiap langkah
................. |/ ..........dan cita2mu...........


Love
--------------- Love ----------------------------------
____##########*________________________
__*##############______________________
__################_____________________
_##################_________**##*______
__##################_____*##########___
__##################___*#############__
___#################*_###############*_
____#################################*_
______###############################__
_______#############################=__
________=##########################____
__________########################_____
___________*####################=______
____________*##################________
_____________*###############__________
_______________#############___________
________________##########_____________
________________=#######*______________
_________________######________________
__________________####_________________
__________________###__________________
___________________#______________



Bintang

_*_____*_____$$___*__________
____*_______$$$$_____*_______
__*________$$$$$$__________*_
______..~$$$$$$$$~.._______
_*$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$*_
____*$$$$$$$$$$$$$$$$$$*____
*____*$$$$$$$$$$$$$$*_______
_*___$$$$$$$$$$$$$$$$_____*_
____$$$$$$$*___*$$$$$$$__*___
___$$$$*____________*$$$$____
__$*__________*_________*$___
________*_________*_________
____*_______*_______________

Sunday, April 30, 2006

Opening my Poems


Ini puisiku
Syair yang menulis dirinya sendiri
Menulis yang terukir dikedalaman hati
Kucungkil dan kuhaluskan di lembar-lembar kosong
Dipilar-pilar baris yang lebih elok menjangkau langit
Dalam mysterinya sendiri mengucap keabadian
Huruf-huruf tersaput kabut

Puisiku lahir dari kata-katanya sendiri
Dari keindahan senja dimatahari terbenam
Meski kuingin terus menanam
Dijalan tak usai di mimpi tak kesampaian
Aku berlompatan…
Mungkin disanalah puisiku
Berkibar di panji-panji langit, pada do’a-do’aku
Pada jiwa tekun mengaji

Puisiku bermula dari kegetiran
Hingga do’a kuhambur-hambur
Dan kata-katanya adalah lidahnya sendiri
Jejak dari orang-orang terdahulu
Sebagaimana ini warisanku
Sesederhana apapun bahasanya…

Kutulis karya hatiku
Dalam coreng-moreng yang selalu latin
Karna hidup takkan bertitik
Dan untaian huruf inipun hanya draft belaka
Takkan sempurna akan terus berubah
Nafas ini kesayangan zaman masing-masing
Semoga puisiku buaian tiap masa
Meski agak buram
Maaf, tulisanku jelek amat…

Mungkin inilah jalanku
Diantara bertumpuk buku dan tulisan tak habis-habis
Didalam masjid merangkai lagi goresan
Ditiap dinding coretan berserakan
Tak lagi syair mabuk didunianya sendiri
Sedang dihati bumi penuh sepi
Tiap masjidku adalah bumi berkubah langit
I’tikaf dalam kata-kata terpilih
Untuk anak-cucuku kutinggal langkah
Harta karun tak habis-habis

Dengan izin Allah
Apa yang kutulis akan bermakna dan menjadi madu bersemayam ditiap hati
Namun Allahpun bisa membuat semuanya sia-sia
Kuserahkan segalanya pada-Nya…


Kredo

Tak perlu kau baca puisiku
Bila sekedar mengharap keindahan kata-kata
Sebab puisiku bukan kembang jalan
Puisiku bukan hiasan kamar
Puisiku penuh peluh, berasal dari luka-lukaku sendiri
Bahkan pedihnya tak sempat kuperban

Kuingin kakiku mampu berdiri
Beranjak dari keringkihanku sendiri
Meski dari langkah-langkah kecil
maka tinggalkan puisiku
Jika cuma terbuai kata-katanya sendiri
Tak ada silau keindahan disini
Sebab puisiku lahir dari jiwa tertatih
Masih merintih, mengaduh, gelisah
Tapi puisiku bukan rongsokan
Kuhaturkan jejakku pada Arrahman
Kepada-Nya segalanya kupersembahkan

Ini tentang kebenaran
Yang seringkali kalah oleh adonan-adonan istilah dan buku falsafah
Dibacakan sebagai puisi bagi perut lapar
Menjadi rumput kering bagi keledai
Apa arti wewangian?
Semoga bukan puisiku
Yang kucipta di kesepian
Syairku bukan sekedar hiasan
Hanya bagi-Nya takkan tersekutukan

Spiritualism and Pray

Perhatian (Disclaimer):
"Harap untuk lebih berhati-hati pada susunan kata dan makna puisi dibawah ini. Jangan sampai saudara terbuai perasaan dan pengandaian hingga lalai, sebab yang dimaksud disini adalah untuk mentauhidkan Allah bukan bermaksud yang lain. Dan semoga kita bisa beragama dengan benar, yaitu mendahulukan sebenar-benar petunjuk (alquran dan assunnah dengan pemahaman para sahabat) daripada prasangka akal dan perasaan manusia.
Mohon masukanya dengan sangat atas kesalahan dan kekurangan kami, terutama untuk hal yang bisa menimbulkan makna menyimpang. Betapa besar terima kasih kami haturkan atas kebaikan saudaraku yang sudi memberi masukan dan mengkritik kami. Semoga manfaat yang kita dapatkan bukanya kesesatan dan kesia-siaan"


Disini cintaku

Biarlah disini cintaku timbul-tenggelam
Tergores di sajak-sajak fajar
Bersujud dicinta semalam
Lalu bemukim di segala wajah keteduhan
Inilah tengadahku cinta
Dipintu-pintu cahaya mekar
Hingga tak ada lagi nafas penghabisan
Menatap nyawa dari kejauhan
Dan do’aku resah kutengadahkan


Di Sana

Oh disana…
Di masjid bertatap muka
Tergores tanpa merah luka
Bergantung dilangit tanpa kutahu entah dimana
Akankah jatuhnya ketanah?
Disini sepi tanpa pepohonan
Tak ada usaha merindang
Hanya ada cahaya terus merapat
Meski hati berparut luka
Tak ada lagi perih disana
Terbenam tuntas…


Melabuh Jiwaku

Menguak purnama
Dimulut basah menyusun sejarah
Disajadah belum tentu tertiup rohku
Tak ada kecemasan luput
Mati kaku ungu
Nyawa dibelai jadi debu
Takkan pernah tersebut bait merdu
Melabuh jiwaku, menjauh sauh…


Cintaku diseberang jauh

Cintaku diseberang jauh
Kecantikan-Nya tak tergantikan
Takkan adalagi perahu berlabuh
Telah kutitip cintaku seluruh
Dirimba tuntas kutempuh
Manisku jauh
Berdzikir di langit tujuh


Apa yang Kita Tunggu

Apa yang kita tunggu?
Kanak tlah usai dan esok senja
Apakah kita domba-domba terakhir?
Yang akan dibantai dialtar merah tanpa senyum
Apakah kita bangsa ‘Aad atau Tsamud
Menanam kemurkaan tuhan
Jangan lagi kita terus pakai topeng berganti-ganti
Telah penuh badut-badut sirkus di dunia ini
Kita punya apa?
Pengemis punya apa?
Jangan ada lagi episode ketololan kita


Kerudung mini

Kerudung mini melambai
Bersama kaos adik tak tau malu
Jins ketat hendak dirubuh angin
Ini pula yang menyengatku!
Seakan pakaian hanya puisi dan jasad untuk yang dibumi
Mata terjagapun tersaput kabut
Apalagi gonggongan liar itu
Dimanakah dunia separuh
Hilang tersapu berserakan
Hanya layak dipembuangan
Hanya layang putus tahu pedihku
Pada selendang tak layak dipegang
Bertingkah tanpa menangis
Menjadi daun-daun gugur
Semoga masih ada hijab sempurna
Menjaga seluruh tunasnya…


Malam Seribu Pencarian

Inikah yang harus kutempuh
Setelah bintang berguguran jadi air mata
Dan perih menjerit disana
Dari masjid ke masjid menyusun malam
Menjajakan air mata ke gelas-gelas
Kembali menguap di sayap merpati putih
Kesempatan tlah tumpah tercecer, terpeleset dilantai berlumut
Belum juga apa-apa
Belum juga menjadi siapapun kita
Bukan penari yang menyeru perubahan
Bukan lilin yang membakar dirinya demi selarik terang
Apakah bulan malam ini masih bulan-bulan yang kemarin juga!
Akan kukoyak pula jika pekik nama-Mu tak datang-datang
Dibibir yang basah
Ingin cahaya itu berpendar di dada ini malam-malam
Dan di sepertiga akhir bibirku pecah-pecah
Meski setelah ini tak lagi kutemu malam
Menjadi penghuni abadi sunyi malam…


Meski Beginikah Hidup?

Biar kuraba rintik hujan
Menebar warna pelangi di langit
Gemuruh dzikir sebelum hujan
Dzikirku pada-Mu menggetarkan bumi
Kusebut nama-Mu menghidupkan kota mati
Meski beginikah hidup?
Mengalir diakal dan berakhir di denyut nadi
Setelah tidur kembali segar…

Menggetarkan bumi          >>> begitu Allah maha kuasa atas segala-galanya,
Menghidupkan kota mati   >>> dengan kekuasaan Allah tiada yang tidak mungkin (meski mustahil dari pemikiran lemah manusia)
    Jadi maksud disini adalah menyebut akan kebesaran kekuasaan Allah


Musnahkan Api Hasrat

Didiri kita ada api hasrat
Melalap kehampaan terus berkobar
Janganlah diberi ranting kering
Ia segera melalap diri sendiri
Musnahkan diri kita sebelumnya
Ada ataupun tidak
Itu api dan kita kapas terbang tinggi
Menjadi debu-debu…


Pencarian

Bagai suara ditengah padang
Berlabuh di sayap remang-remang
Lafadz yang terukhir disana tenggelam
Terbenam di riwayat terdalam
Teremas-remas kupegang
Hati terang tanpa bayang-bayang


Siapakah Aku

Pagi ini embun menjemput
Di dahan tua yang patah
Menimpa gemetar ketakutanku
Siapakah aku? (menggigil)
……………..… (aku ketakutan)
Biarkan aku mencari-carinya sendiri
Tapi mengapa aku disini? Akupun tak tahu
Terus kucari dan mencari mengapa
Apakah aku!

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

(Q.S. AL-MU’MINUN:115)


Jiwa-Jiwa yang Menari

Biarkan kita menjadi jasad
Dan roh seluruh semesta meresap
Rasakan kita roh cahaya-cahaya itu
Biarkan jasad hilang
Kita roh…
Roh yang bangkit
Beredar memutari langit
Naik, melintasi pelangi
Menari diatas angin
Terus berputar gila mewujud cahaya
Pepohonan adalah jiwa-jiwa kami
Tumbuh dari hujan rahmat
Berpendar keseluruh bumi
Jiwa kami adalah cahaya bertabur bintang
Bersemayam di abad-abad
Menjadi meteor dimata kami
Di genggaman tangan jadi mutiara
Hanya kuasa-Mu
Melingkupi seluruh penjuru langit dan bumi
Menundukkan seluruh hati
Menumbuhkan seluruh kehidupan
“Siramilah jiwa-jiwa kami dengan cahaya-Mu"
Untuk memekarkan para hati yang kami temui
Hanya dengan kemuliaan-Mu
Kami bisa kembali


Hidup Ini Pesakitan

Kadang hidup ini pesakitan
Menyiksa jiwa dengan penuh umpan
Kadang dunia lukisan
Adonan warna yang mencipta keindahan
Menyuguhi segala rayuan
Ini dunia
Tinggalkan segala harap dan keinginan
Bagi diri segala keharaman
Hanya pada-Nya segala kehalalan
Andai dunia ini putih saja
Kitapun takkan bermakna…

Bagi diri segala keharaman
Hanya pada-Nya segala kehalalan

>>> Maksudnya halal dan haram telah Allah syariatkan dengan jelas dalam islam


Maafkan kami

Maafkan kami
Dengan maaf yang tak terpahami
Sebab dosa kami tersangkut ditiap wajah
Meski kau tak mengenal kami
Maafkan kami
Dengan muka cerah,
Jangan lagi dosa kami menuai susah
Maafkan kami karna kau tak mengenal kami
Kesenyapan kami
Keterasingan kami
Maafkan kami karna kau tlah mengenal kami
Kedhaliman kami
Kesalahan-kesalahan kami
Ketidak pedulian kami
Maafkan kami
Mungkin karna kebodohan diri kami
Prasangka-prasangka yang kami buat sendiri
Sebagaimana kami seenaknya sendiri
Memang inilah kami
Keterbatasan bertumpuk-tumpuk
Mohon ikhlaskan kami
Tenang terbaring disujud-sujud illahi…


Maafkan Kelemahanku

Didarahku, kubaca bait-bait puisi-Mu
Tentang kematian yang pasti menjemput
Tentang matahari yang segera padam
Bumi yang hanya keriput kering
Hanya jika rahmat-Mu menetes
Merembes keseluruh darah
Membasuh jantung
Dzikirku abadi…
Maafkan aku tuhanku, hatiku luka…
Dihajar habis-habisan oleh dunia


Senyum Abadi

Sebongkah waktu kutendang
Tak ada lagi nafsu sebagai persembahan
Sepanjang jalan darah kupertaruhkan
Bukan sekedar celotehan anak
Setelah malam-malam penyerbuan
Kubalas dengan panah api nurani
Semoga tak mengaduh
Biar kubakar seluruh
Runtuh hingga satu cahaya cemerlang
Lalu kuberi salam
Hingga tak ada wajah berkabut
Berayun-ayun dibenaknya sendiri
Lenyaplah dupa-dupa dipatung
Mengulas kembali senyum abadi…

Lenyaplah dupa-dupa dipatung
Mengulas kembali senyum abadi…

>>> Musnahlah segala kesyirikan kembali pada tauhid


Mengharap Kasih-Nya

Mengharap kasih-Nya
Nyala berapi-api
Dimasa suram tetap Kau tawarkan segala keindahan
Kasih-Mu nyala tak padam-padam
Tak berbekas lagi kesakitan


Dimana Engkau

Sejak kumerasuki malam
Pencarian begitu melelahkan
Sebagaimana juga malam ini
Berlelah-lelah menyisir ruang kosong
Sampai terus kutemu diri-Mu
Dimana diri-Mu?
Engkau yang tak kemana tak dimana-mana
Tak dipersamakan apapun Engkau
Dicari-cari takkan ketemu
Engkau selalu bersama kami…

>>> Allah maha suci dari persamaanya dengan makhluq, segaloa sifat Allah telah jelas disebut dalam alquran


Dosaku

Dibumi yang istirah
Terpampang luka menganga
Masih pula kita memelukinya erat
Sunyi-senyap menggelinding
Didetik-detik akhir ini
Mengapa pula masih ada lelap mendengkur
Tak berjaga malam-malam
Menunjukkan hati menyedihkan
Dosaku, dosaku, dosaku…


Syukurku

Ya Allah…
Demi karunia-Mu yang tak pernah habis dihari-hari kemarin, kini dan esok
Kami takjub
Sebagaimana segala sujud hanya beredar satu arah pada-Mu
Ingin syukurku menyelinap hingga ke lorong-lorong rahasia
Hingga tak ada pintu bersisa


Hanya pada-Mu

Dengan sisa-sisa harapan semalam
Kucoba mengayun kaki
Walau langkah terasa berat
Dimanakah kugantung harapan
Akankah di cemara sana berdiri kuhias bintang
Hanya pada-Mu
Terus pada-Mu…


Aku Tak Tua-Tua

Aku tak tua-tua
Tlah berhenti umur dibelasan tahun
Hanya tubuh membesar
Bermain layang-layang
Melompat-lompat berjingkrakan
Meski jenggot kami panjang, dimanakah jiwa-jiwa besar
Dimana lahan kami torehkan
Sedang kini kami rebut dunia mereka
Anak-anak jadi cepat tua


Yang Terlihat Hanya Tipuan

Sebagaimana pohon-pohon
Kitapun rumput, menari-nari diterpa angin
Cinta adalah keindahan dan dunia ini cermin
Dimana kesempurnaan berpijak
Disitulah kecantikan abadi
Dan yang terlihat hanyalah tipuan
Sebab kepada-Nyalah sejati

>>> Maksudnya: meniti jalan yang telah Allah ridhai dalam syari'atnya


Pada-Mu Kutambatkan Jiwaku

Engkaulah…
Teman tidurku ketepian jauh
Mengubur dosa pilu, menjerit berteriakan
Meski bayang-bayang menghantuiku
Meski malam-malam merintih
Hanya pada-Mu
Kutambatkan jiwaku


Hari Akhir

“Silahkan lewat”, Kataku
Kerlingkan mata kebalik dunia
Rasakan bunga semerbak sebelum memejamkan mata
Takkan ada lagi sapa-menyapa
Hilang pula susunan kata-kata
Semua tlah berlabuh didermaga
Antri turun sesuai karcisnya
Dengan tangan kiri atau kanan
“Oh ya, kita naik taksi apa unta?”

>>> Maksudnya hanya pengandaian konyol bahwa kelak orang akan berkendara sesuai dengan amalan masing-masing sesuai keridhaan Allah


Akal dari nur

Percikan akal berasal dari samudranya sendiri
Sumbernya adalah cahaya-cahaya
Dijaga para bidadari
Setelah semua lumpur menetes
Air disuling berulang-ulang
Melukis seluruh lautan
Makna ini dari beribu jantung gugur
Cinta yang bersimpul dari seluruh hati
Berharap ada riwayat khaidir hadir dipemakaman
Ditunggu-tunggu rohku
Meski aku kecil…


Sendu Dosaku

Hari ini embun datang pagi-pagi
Setelah istirah malam yang lelah
Menapaki dari daun-kedaun
Mengambang dan menetes dari pucuk-pucuk
Sebutir hinggap lelet dipipi
Meleleh pasrah
Tetap tunduk menatap langit
Melepas lembut segala gelisah
Kubayar dengan tangis
Sendu dosaku…


Tunjukilah Kami

Ya Allah…
Mengapa mesti ada cermin
Apakah wajah kami penuh berlumur daki
Tak ada yang cantik?
Ya Allah…
Mengapa Engkau beri kami mata
Apakah karna ingin Kau tunjukkan kedekilan kami
Serta piciknya tatapan kami
Ya Allah, mengapa Engkau ciptakan cahaya
Apakah karna gelap hati kami
Hingga bayangan selalu mengikuti
Ya Allah, dengan kedua tangan dan kaki ini
Meski dengan apa kami berpegang?
Meski kemana kami berjalan?
Tunjukilah kami ya Allah, dalam kedunguan kami
Dalam segala kelemahan kami

>>> Maksudnya berharap senantiasa mendapatkan hidayah Allah dengan petunjuk yang sudah pasti: alquran dan assunnah dengan pemahaman yang shahih


Pasrah

Digelap yang senyap
Malam kini kian larut
Terus memanjat aku disepertiga malam-Mu
Berpasrah dari keterbatasan do’a
Ini nafasku, terus berpacu
Tanpa lelah melafadzkan nama-Mu
Takkan berhenti meski seluruh cahaya menyelimutiku
Berpendar diubun-ubun membasuh seluruh jantung
Jiwa ini milik-Mu
Dan hanya kau yang tahu
Engkau mengenal jauh sebelum adaku
Kini aku bertandang kepada-Mu
Ibarat bola sebulat itu pulalah pasrahku
Terserah apapun yang akan Kau perlakukan padaku
Tunjukilah aku pada keridhaan-Mu…

>>> Maksudnya berharap bisa senantiasa berjalan dijalan lurus yang Allah ridhai dengan sadar pada tiap jantung berdetak


Labuhan Jiwaku

Labuhanku, ini perahumu
Jangan lagi ombak menggoyahkan kemudimu
Aku ini kayu terapung dipantaimu
Genggam erat jangkarku
Biarkan aku mesra bersandar disisimu
Dikedamaian inilah tempatku
Didadamu…


Aku Tlah Berlalu

Kemarin dan hari-hari yang tlah pergi
Disisi-Mu abadi
Sebut namaku yang merindu pada-Mu
Bagaimana ingin selalu bersama-Mu
Biar tlah sirna
Hari dan hari bukan milikku lagi
Hanya kerinduanku pada-Mu
Disepoi-sepoi basah
Coba menggapai-Mu
Dan aku tlah berlalu…
Cintaku Mulai Larut
Kabut mulai menipis
Didaun hanya dingin berpelukan
Dipagi menggigil
Tertelan tubuhku dititik bumi
Bagaikan lilin pagi terkantuk-kantuk
Cintaku mulai larut
Tersiram air larut
Bermukim keasalnya…

>>> Maksudnya berharap bisa senantiasa berjalan yang benar disisi Allah ridhai dengan dengan sepenuh diri termasuk ingatan, akal, perasaan dan jiwa


Tangis Diserambi Masjid

Ditangis manja serambi masjid
Berharap cinta lebih dari sekedar belaian
Dekap-Mu kelembutan
Dari tangis kecil sesenggukan
Biar mendaki aku ke menara-menara masjid
Biar jiwa kami rebah dalam kasih-sayang-Mu…


Dimana Hati Berlampu

Belum seribu musim gugur
Tak ada lagi yang tersembunyi
Semua yang teraba mencabik-cabik
Suara-suara jadi berisik
Dimata terlalu banyak warna
Yang dicinta menjelma berhala
Kata-kata kian rapuh
Hati tak lagi bersaput cahaya
Mataharipun mulai menyerpih
Dimana peradaban yang tertumpuk di hati-hati berlampu?


Menanti Jaring

Dimata gelisah ini semua adalah sampah
Segala pandangan adalah buih dan kenyataan itu lautan
Kita ikan-ikan kecil kesepian
Berenang kacau
Menanti jaring
Bahagia disisi-Nya….


Naiklah Kepanahku

Naiklah kepanahku
Dari bumi menuju langit penuh cahaya
Dari cahaya itulah kita ada
Dan roh tentram disana
Meski Ia hanya bisa dikiaskan nama
Ia meliputi apapun tak tersebut apapun takkan terbatas suatu apapun…


Sabar

Cacian itu belati menikam jantung
Didada lapang mengorek mutiara berkilau
Tak ada sesal luka tertutup
Tak pula darah naik kepembaringan
Hanya rintihan dimalam panjang
Biarkan luka abadi
Tak ada artinya tertusuk duri
Disisi-Nya tlah kering


Di Rumah Suci-Mu

Dengan lutut gemetarku
Di masjid rumah-Mu
Kusujudkan pasrah derai lukaku
Berdzikir menyebut nama-Mu
Dengan hati kuseret-seret
Kuserahkan jua pada-Mu
Dilangit-Mu awan membuka pintu-pintu
Ada cerah sinar disana
Disemesta-Mu udara berlarian pergi
Mempersilahkanku mendaki lebih tinggi
Bersemayam dirembulan dan tak turun-turun lagi
Ini asalku buat apa kegaduhan lagi!


Melesat Bersama cahaya

Yaa Allah…
Beri kami jiwa yang selalu memanjat dan memagut
Menjadi satu dari keindahan tak terhitung
Mengucur tetes-tetes dzikir deras
Melayang-layang bersama malaikat
Berlapis membentuk gugusan pulau-pulau
Dipendar matahari menjadi pelangi
Maka jadikanlah jiwa kami melesat bersama cahaya
Menuju Engkau yang meliputi segenap cahaya
Memancar dari bait-bait senyum penuh rindu
Hati yang terus berdzikir kepada-Mu…


Oh Masjidku

Oh, masjidku…
Tercekat diantara bioskop dan super mall
Begitu meriahkah pasar dunia ini!”
Masjidku tak dipedulikan lagi
Dimana lagi tampak masjidku!
Tak terlihat dikerumunan gedung
Dibanyangi iklan kecantikan dan pesta-pora
Apakah engkau tlah menjadi milik langit dan kami hanya laron-laron bumi
Terbuai dipesta-pesta semalam
Di konser-konser yang megah
Masih adakah hati-hati kami terselip disana!
Bertakbir dikeheningan malam
Menangis sesenggukan di kahyangan
Atau terseret dihiruk-pikuk mata!
Meratapi sesal diujungnya
Andai dunia hanya remang-remang belaka
Pasti cahayaku selalu bermihrab disana


Ku seru “Allah”

Kuseru kau “Allah”
Meresap hingga keseluruh darah
Kuseru lagi “Allah” berpatah-patah
Ke puncak-puncak gunung
Dikeheningan aku tengadah
Ke ujung bumi hingga kurasa aku tak kemana-mana
Hanya mendidih darahku kepada-Mu…


Tetap Kunanti

Sampai habis peluh suaraku
Tinggal hati berdengung-dengung
Dzikirku tlah kuseret jauh tinggi
Keketinggian yang takkan pernah kukenali
Mencari-cari
Mencari hingga nyawa pedih nyeri
Berharap hatiku datar
Mengharap dengan sabar
Kami zarah-zarah kecil pantaskah berbagi!
Berdiam tetap menanti
Di kedalaman masjid terus mencari
Meski Kau lebih dekat daripada urat leher kami…


Ampunilah Kami

Barangkali ini segala persembahan
Bukan kota tua tapi oase menyejukkan
Menggenang darah tak bersisa
Menjadi yang terdepan menggores sejarah
Ku coret-moret seluruh lukisan
“Cukup!”’ Kataku
Jangan lagi ada malam membayang
Masih kurangkah kepala-kepala kami jadi tumbal
Bukanya kecil jadi besar
Tapi yang kecil-kecil ini sekarang
Dan akan terus kami berikan...


Apa yang Kita Cari?

“Masihkah mengenali gerimis?”
Mau kemana kita
Apakah hanya bermain-main ditengah kabut!
Meski hujan deras…
“Apa yang kita cari?”
Di jalan ini ataukah sepanjang jalan kita lewati
Di ujung jalan ataukah jalan itu sendiri
Apa yang dicari-cari mesti abadi
Bukan jejak kotor ditanah becek
Hilang terguyur air….


Bertebaran di Bumi

Mari kita berdagang
Dibumi melipat karangan bunga
Bukan tengadah menjadi tangan peminta
Mari bertebaran dibumi
Menjadi tangan masing-masing
Menyantuni yang kita sapa
Namun hati tetap pada-Nya
Khusyu’ sujud pada-Nya


Kefaqiran

Kefaqiran itu anugerah
Hanya sedikit yang selamat
Kefaqiran itu sebuah langkah
Bukan jubah yang diperlihatkan
Bukan miskin cahaya dijalan berdebu
Dan menjerit tak berjaga
“Teratai tak pernah peduli nama dan kata
Akan tetap anggun di jambangan”


Engkau Alam Begitu Luas

Dunia ini besar dan kita zarah-zarah
Setetes tak bermakna dijagad ini
Tapi setitik itulah kita, alam luas tak terkira
Masih muda untuk terus dijelajahi
Disinilah yang sirna tak lagi berbentuk
Tak ada suara apapun
Tak butuh warna
Didiri kita alam sungguh luas…


Persiapkan Diri

Buanglah segala kursi dan sandaran
Kursi akan patah tidurlah dipermadani luas
Meski tetap akan digulung
Pada yang tersebut tak lagi dihitung
Walau kita sendiri matahari terkurung tanah
Diseduh air dan lumpur
Musnahkanlah diri
Bersiap menjadi cahaya-cahaya
Cemerlang diperjumpaan selanjutnya…


Tatap Wajah Sendiri

Mari kita tatap wajah sendiri
Sejelek apapun
Ini wajah kita
Penjara roh yang terkotori
Tak perlu malu lalu buru-buru kabur
Nikmatilah masa kerinduan
Betah ataupun tidak….


Kita Bukan Sekedar Lumpur

Kita bukan sekedar lumpur
Dari adonan air dan tanah ini ada persawahan
Menjelma bulir-bulir padi
Berujud syukur dibibir pak petani
Kita tumbuhkan bunga-bunga indah
Anak-anak bermain renyah
Kita adam, kemuliaan dari hakekat tertutup rapi
Meski tanpa-Nya kita rumputan
Tak perlu merendah serendah iblis
Kita tanah yang disucikan…


Kami Debu Tak Bermakna

Hanya pada-Mu kasih tiada duanya
Tanpa-Mu kami debu tak bermakna
Tanpa izin-Mu tak bisa berbuat apa-apa
Sesak nafas kami dipenjara pengap ini
Keluarkanlah kami dari berhala-berhala kami
Dari keterbatasan jasad
Dari kekufuran diri kami
Disini sempit lagi sepi…


Kepada Siapa Harap dan Takut

Seorang anak bertanya pada bapaknya
“Bapak, kenapa ada hujan?”
Apakah para malaikat sedang pesta pora dan piala-piala tumpah
“Bapak, kenapa ada kemarau?”
Apakah para malaikat sedang membuat api unggun sehingga kita kepanasan
Ranting-ranting kering burung tak berkicau
Dilangit biru awan pelan berarak
Apakah seperti mata ini!
Larut tak berkedip sepanjang malam
“Bapak, kepada siapa harap dan takut kuberikan?”

>>> Pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah tentang ibadah:
“Barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka ia sungguh zindiq
Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah murji’
Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia haruri
Seorang yang mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketigannya, takut, harap dan cinta
Menjadikan ketiganya sebagai kekuatan jiwa yang tak habis-habis dalam menghamba pada Allah"


Semua Roh Berjabatan

Tiap jiwa terjalin roh
Kita jiwa
Roh-roh saling berpendar
Terang bersahutan
Buram, roh bergelantungan
Beradu pengalaman meski tak ingin
Menang atau kalah
Hanya pada cermin terpantul warnanya
Setelah kejernihan saja
Dimanapun kita
Iman takkan pudar….


Dzikir ini kesejukan

Dzikir ini kesejukan
Berlepas dari segala angan
Bergerombol bagai budak sahaya
Melempar-melempar berhala
Menyebut nama-Nya tak cukup-cukup
Allah sungguh nyata, tak ada sedikitpun keraguan pada-Nya
Mari bersaksi akan ada-Nya, mengesakan-Nya


Sahabat sejati

Banyak jalan kita tempuh
Melangkah tak berparut luka
Duduk kasat mata, berjabat dalam ruh
Berpegangan erat dikelebat cahaya
Kita telan duka bersama-sama
Ini kita
Diserambi masing-masing
Bersama-sama kepada-Nya…


Terimalah Taubatku

Dalam dahaga menggigil
Aku bayangkan ada orang kepanasan berendam digunung
Sedang langit masih menggeliat
Menggulung-gulung mega berdentum
Berlari-lari aku dipilar cahaya
Naik ke pemukiman awan
Menyingkap suara cemas syurga
Aku bermandi disana
Di air terjun pelangi bidadari
Menjadi kupu-kupu digerimis embun
Disinilah adzan bergema
Di subuh abadi setelah penaklukan malam
Bercermin langit dilaut rindu
Banyak buih dosaku kulayarkan kesamudra-Mu…
“Boleh kugenggam dzikirku?”
Hanya rindu menyentuh langit-Mu
Sujud memutih bersama tebing cahaya-Mu
Meski aku tetap berendam dibumi-Mu…
“Kaki kami mengakar dibumi
Ubun-ubun menjangkau seluruh langit
Senyum menyapa seluruh jiwa
Hatiku hanya pada-Mu…


Dengan Menderita Kita Diberi

Dengan menderita kita diberi
Ini hidup, mengembang dengan mati
Niscaya kita tahu
Berguguran tak mati-mati
Tak tergerak apaun
Dalam cinta-Nya
Takkan pernah diajarkan tak ditemukan dimanapun…


Menarilah Dzikir Kami

Menarilah dzikir-dzikir kami
Membasuh kabut malam berbintang
Kami layangkan kau siang-malam
Sebagai matahari dan bulan
Hajat rindu kulabuhkan


Selalu sujud

Mari meratap bagai seruling
Tunduk layaknya belalang
Meski jasad mengering
Mari tetap tegak berdiri
Meski roh tetap sujud
Dimanapun kita disisi-nya selalu khusyu’


Mutiara jiwa

Jiwa kami cahaya
Memancar dari terang mutiara
Mutiara kami adalah jiwa
Jernih berkilau di lapang dada
Memancar di wajah-wajah
Putih cemerlang sinarnya
Di dada makin bergelora
Luas melingkupi samudra raya
Berpendar sibuk hingga dikedalaman tak dikenal
Memancar hingga ketinggian tak berujung
Ini jiwa kami
Jiwa berapi-api
Nyala dihadirat-Nya abadi
Tak padam-padam kami berkobar tak mati-mati


Pesona rasulullah
(dari mimpi)

Kucoba tatap wajah cemerlang
Sekuat yang kumampu
Namun apalah aku
Takkan sanggup menerima pesonamu
Engkau matahari
Sedang aku tak sebanding debu-debu
Akan menyerpih aku

Aku musafir lewat tak tahu arah kemana
Di teduh sinarmu sebuah petunjuk
Meski aku takluk menatap kemuliaanmu
Akan kucoba meski jauh bumi langit
Aku ingin menjadi salah satu diantara sahabat dan pencintamu (begitu ingin)
Mejadi salah satu penghuni damai sinar matamu
Kecemerlangan yang menyinari seluruh bumi

Sedikit saja suara lembutmu
Mampu meruntuhkan jantungku
Itulah kata-kata yang harus kupegang erat
Halus suaramu deras meluncur ke ulu hati
Tergenang hatiku hingga meluap
Betapa bahagianya…

Andai wajahmu itu selalu lekat-lekat dimataku
Hingga tak tersisa sedikitpun
Meski hanya mimpi
Tak terpisahkan
Kuharap seakan engkau selalu hadir
Menemani sepiku sampai kapanpun
(Yaa Allah kabulkanlah harapku…)

>>> Berharap banyak mengilmui hadist dan mengamalkanya


Ini hidup

Ini hidup
Tak selalu lebam
Tak ada keluh masa lalu dan degup jantung kalah
Koran pagi, kita biasa menghiasinya dengan secangkir kopi
Ini kopi kita teman, manis ataupun pahit

Tak ada janji syurga kebetulan
Tak ada ciptaan tersia-siakan
Hanyalah kita mata suka terpejam
Sedang surat petunjuk tlah di kirimkan
Lewat utusan semulianya teladan

Surat itu berisi selaput cahaya
Kelak mengelupas dan kita berendam di kedalamanya
Tinggal kita, “Maukah jiwa kita mencebur kekedalamannya?”


Ampunilah Aku

Tiap kali larut hatiku
Kuraba tiap kata dari-Mu
Kuresapi kedalaman firman-firman suci-Mu
Kubasuh jiwa buramku

Kubersimpuh di hadap-Mu tuhanku
Kubenamkan wajah penuh dosaku
Kutanam hati pada sujud-sujudku
Betapa lemah diriku yaa Allah
Duhai ampunilah daku…


Pangkal cinta

Pangkal cinta ini adalah
Pertemuan antara bumi dan langit
Di mana rasul mulia di utus

Demikian pula kita
Mengikuti jejak-jejak
Sibuk dengan tangan masing-masing
Jiwa tetap shalat khusyu’

Mengikuti jejak-jejak >>> mengikuti sunnah rasul


Di Sungai Rindu

Di sungai rindu masjidku ini
Rohku hanyut terbang tinggi
Menjadi cahaya terang berkabut
Merangkai do’a-do’a…

Dzikir seirama jangkerik klasik kulantunkan
Mampir sejenak di risik bambu, melesat tinggi jauh ke langit
Menjadi lelap-lelap bertebaran
Memancar dari mata diam sayu…


Di wudhu khusyu’mu

Di sini, dibasuh wudhu khusyu’mu
Menghirup berkejaraan ayat-ayat al quran
Bukan bait syair didaun lontar
Dirisau yang amat dahaga
Membasuh hati dengan manikam cahaya
Bersayap-sayap takkan pernah patah

Biarkan ia menetes dipadang luas
Berbasuh dengan peluh
Dan kembali kepangkuan setelah lelah
“Laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah…”
Nyawa bergetar…


Kurindu Lantunan Ayat-Mu

Kurasa disinilah keramaian pasar malam
Sedang dunia kian sepi

Hilang kemana anak senja asyik mengaji!
Dimana lagi lidah-lidah basah bershalawat nabi!

Lorong jiwa terkurung seribu sunyi sepi
Akankah dada lapang mata bersinar kutemu
Tiap kuterpesona bukannya sinar hati, hanya polesan make up
Bukan surban tapi topi
Sudah terlalu muak aku, senyum-senyum di jual
Oh dimanakah lagi hati
Apakah tlah tercecer tak terangkai lagi

Siang ini aku sungguh rindu
Merindu kembali dihari itu
Ayat-ayat suci-Mu di lantunkan penuh merdu
Dan anak-anak polos asyiik menghafal juz terakhir al quran-Mu


Allah-lah Pemilik Segala Kebenaran

Dunia ini takkan pernah melingkupi-Mu
Engkau kebenaran, yang Kau cipta takkan termuat akal
Di senja menguning Kau tutup tabir
Jiwa-jiwa sendiripun kami takkan pernah tahu
Apalagi tentang Engkau

Tak semua cahaya di jangkau sudut mata
Imaginasi hanyalah bayang-bayang
Angan-angan takkan pernah mengubah kenyataan
Sejumput mata tak bisa mengemukakan kebenaran

Karna kebenaran bukan sekedar hasrat akal
Ia punya nama sendiri, dan hanya kadang-kadang kita mengingatnya
Hanya lewat kalam-Mu kami mengetahui
Dan kami berlindung dari kebodohan diri kami sendiri


Tiang Masjid Itu Lift

Kubalut warna pelangi
Yang tiap indah warnanya takkan bisa disebut
Kulukis indah diatas kubah
Untuk tangga kami menuju langit
Siapa tahu tiang-tiang masjid itu lift
Di langit ada kereta, petir adalah pendakiannya
Mencapai puncak tak berujung
Masih dijiwa kita, di masjid tak terhitung


Ucapkan “Laa Ilaaha Illallah”

Kuceritakan padamu tentang keajaiban
Banyak nama-nama dan hati kita adalah yang termanis
Cinta hadir keterbatasan musnah
Di cermin suci memantul sujud
Hijrah dari bayangan menuju perwujudan
Disinilah segala hijab tersingkir
Ucapkanlah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah….”
Tinggalkan segala persekutuan
Hanya pada-Nya semua bermakna


Pangkal Cinta Ini

Pangkal cinta ini
Bukan dipermukaan, akhirnya meliputi seluruh keabadian
Jika dikatakan takkan pernah benar
Jika ditulis takkan pernah cukup
Tak bisa pula diukur
“Harus dengan apa diungkap!”
Rahasia tetap berkabut
Karna dari cinta awal ini tak terbatas
Meski hamba miskin
Tetap sujud…


Engkau yang Satu

Wahai engkau yang Satu
Tak berbilang tak berparuh
Nama-nama-Mu kebenanran, kami menyebutnya dalam alquran
Tak tersamakan apapun
Tak tersekutukan siapapun
Tak punya lawan tak butuh kawan
Engkau mencipta waktu
Engkau takkan terbatasi olehnya
Engkau mencipta ruang
Engkau suci dari segala keterbatasan
Engkau melingkupi segala sesuatu
Bukanya engkau yang dilingkupi sesuatu
Tanpa sebab Engkau mencipta segala sesuatu
Semua hanyalah kehendak-Mu
Tak ada kapan, dimana dan bagaimana bagi Engkau
Sedang kami lemah
Sungguh terbatas kami menyebut-Mu
Takkan sanggup lidah kami
Sedang menyebut-Mu kami perlu lagi bersyukur atas karunia-Mu…

Iman adalah nikmat tertinggi
Maafkan kami tuhan
Engkau takkan terbatas ruang
Hati kamilah yang sering membuatmu berbatas ruang
Lindungi diri kami dari segala kekufuran

Heroisme and Patriotisme

Kupercayakan Padamu

Kupercayakan Padamu
Kujabat tangan penuh hangat
Sujud syukur pada-Nya
Kutitip rindu berduka
Didada beriman bersenandung tasbih
Kuserahkan gelisah tanah-airku…


Hampir Musnah Indah Bumiku

Hampir musnah indah bumiku
Penindasan disanjung bumi dipecah-pecah
Seakan tiap warna kulit punya sekat
Seakan tiap bangsa musuh bebuyutan
Apa arti negara?
Apakah mengkotak-kotakkan lewat bendera!
Mungkin matahari sudah terlalu tua
Tak lagi dijenguk pengembara terasing
Sayap-sayap beterbangan
Awan-awan tak lagi berani pulang
Karna hutan hangus terbakar
Lagu-lagu bendera telah luntur menjelma serigala
Didekap sampai kehabisaan nafas
Dimana kini jiwa berapi-api
Apakah ikut mencicipi kisah-kisah lama
Oh dimanakah ayat yang dikumandangkan penuh arti…


Untuk Sebuah Negri

Kubuat puisi untukmu negri
Dihutan-hutan berkobar
Dimulut para wakilmu keterlaluan
Dimakam para pahlawan
Pada tunas-tunasmu layu
Setelah kau menangis sepanjang malam
Tak ada lagi lelap tidurmu…
Kuceritakan kisah nina-bobok khusus buatmu
Lupakan semua gelisah malammu
Tentang korupsi dan penindasan
Tak ada lagi yang menjegal mimpimu
Tak ada air bocor dari atap
Dimusim berlaluan pergi
Menjadi humus berlapis-lapis
Tumbuhkan kembali tunas-tunas subur
Zamrud bersinar kembali
Bahkan melintasi peredaran bumi
Mimpi!
Ini bukan mimpi
Ini tentang jantung aqidah kami
Tak ada bangsa apapun
Hanya bumi yang dipasrahkan
Bercinta lewat buku dan internet
Bukan pada panas tubuh sendiri
Dihati semua musim…


Tak Perlu Lagi Perkenalan

Tak perlu lagi perkenalan nama
Namamu bisa kubaca dari kemeja
Dimana nama?
Ketika pencakar langit membumbung keangkasa
Padang-padang sahara hanya ada di layar kaca
Kita begitu kuasa hingga menjarah nyawa
Tak ada artinya Irak Palestina
Di kursi senja
Hanya setan yang rindu segera ke neraka


Buat bangsa-bangsa angkuh

Beri kami sekuntum seroja
Bukan angkuhnya patung liberti
Informasi kau buat dongeng-dongeng
Peradaban kau uapkan keudara
Hati di sepatu lars terinjak
Semua hanya setan-setan belaka!”, Katamu geram
Seakan kebenaran itu milikmu
Yang buram kau buat hitam lebih pekat
Yang bersenjata kau buat silau
Layakkah kau tikam seluruh dunia!
Hingga darah mengalir dari gunung-gunung
Jantung bumi terbatuk-batuk
Siapakah yang tak ingin hidup sejahtera
Siapa tak ingin hidup tanpa derita?
Bukan dengan mencekik bangsa lain
Bukan dengan menyingkirkan peradaban lama atau baru
Bukankah kegelapan muncul dari balik cahaya?
Lalu siapa yang mengklaim wakil cahaya di timur dan barat!…
Dunia ini bukan taman syurga
Hanya kebun berharap mekar disana
Tak mungkin ada kekuatan sempurna
Kesempurnaan hanyalah milik-Nya


Derita Sebuah Bangsa

Oh tuhanku
Bumiku bersimbah darah
Udara-udara kacau
Empat windu leluhurku tergadai
Kini meski apa kami menjerit
Ditangan cucu-cucu sendiri
Anak preman cucu perampok
Pejabat-pejabat korup
Sudah terlampaui pedih luka kami
Meski dengan apa lagi?…
Hanya pada-Mu kami meratap
Hanya Engkau penunjuk kebaikan kami…


Mahasiswa di Tanah Rantau

Disini
Digedung penuh tumpukan buku
Bukan sibuk ngobrol dengan tembok-tembok
Bukan sekedar menguasai jalan sempit
Kami bukan itu
Bukan berhala berharap sesajian
Bukan sekedar nama keras-keras diteriakkan
Kami kafilah penuh muatan
Bercengkrama tentang tugas dan kebenaran
Mata kita api, hati bukan sekedar lautan
Bertemu dipengahabisan nan tenang
Dan panen musim ini membayar hutang


Buang Jauh Sepatumu

Bukan lagi lidah menghafal
Bukan pula zaman otak seragam
Buang jauh-jauh sepatumu
Buang seragam yang memberatkan
Dengan apapun kita layak belajar
Meski hanya bercahya bulan
Kepada langit buku telah dihamparkan
Kepada bumi prasasti-prasasti ditorehkan
Pegang erat-erat bukumu ditangan
Atau kita dilindas bersama kerikil dan aspal…


Bila habis waktuku

Bila habis waktuku
Entah kapanpun…
Ingin langkahku ini warisan terbaik
Kuberikan pada siapapun kujumpa
Kuberi degup jantung pada siapapun meminta

Bila genap waktuku…
Ingin kulepas mutiara yang ada
Yang payah terendam dikedalaman samudera
Meski payah kilaunya
Ingin kuserahkan semua kupunya

Bila sampai waktuku
Kuingin kata-kataku menjelma samudera
Kubasuh putus asa
Kugosok mata hingga cemerlang
Kupenuhi semua hati…


Tangis Bundaku

Seraut wajah memutih sendu
Berbasuh air mata, oh ibu…
Menganak sungai dukamu empat windu
Kau titip rindu disayap-sayap mengering
Kini ditikam anak sendiri…

Oh ibu betapa perih aku
Tak tega aku bu…

Jangan terus kau tepuk air matamu
Usir saja anak tak berbakti itu Bu…
Kutidur merajuk disampingmu


Sesal

Sekali lagi aku menyesal
Bukan hanya menggugat ketidak-berdayaan
Menatap para dhalim bersorak-sorai kemenangan
Berebutan sejarah penuh genangan darah
Hati kami hancur teman
Diinjak sepatu lars
Perih…


Maafkan Kerapuhanku

Maafkan kami tuhanku
Lagu-lagu cinta tlah jadi berhala
Tontonan syahwat membuat anak dipaksa lahir sebelum waktunya
Perih hati kami tuhan, tersayat-sayat
Maafkan kami
Tangan kami begitu rapuh
Maafkan...

Suara hati

Dalam tatap langit
Aku juga ingin menatap bintang lama-lama
Walau kusadari itu bukanlah purnama
Walaupun aku takkan pernah bisa menyentuhnya
Aku cuma ingin memandang
Memperlihatkan sebuah kerinduan
Dan ketidak-sampaian akan sebuah harapan
Dan akupun akan terus menunggu untuk beberapa malam...

Dalam sebuah pejuangan
Masa sering melupakan, ataukah memang terlupakan!…
Tapi aku tahu sebuah gejolak hanyalah sepenggal kisah
Takkan pernah bisa melupakan kerinduan padanya
Namun apa hendak dikata jika harus memilih dan berkorban dalam satu waktu!..

Cahaya mentari itu
Hanya mampu bersinar dalam baraku
Dan hanya api terdekatlah nyalaku
Membuihkan embun ciptakan mutiara
Dan tahukah sekarang siapa mutiaraku
Kalian adalah bagian dari kuncup api itu…
Dan segala persembahan tanganku berterima kasih padamu
Sampai nanti selesai pengembaraanku

Hadirnya bawa kecerahan
Tak semudah lara terlupakan
Demikian banyak pundakku berderak
Gunung yang ditanggungkan sampai berapa lama aku akan jadi bumi ini?
Tahukah ia, masa yang habis sudah tercuri jalanku panjang…

Masa yang semakin aneh
Nasehat sudah jauh tercampak
Kepandaian yang semakin melonjak semuapun terjebak
Maka kata emas semoga adalah kenyataanku
Tak terpisahkan dengan do'a,cukuplah jadi apapun yang mampu terucapku
Dan hanya itulah yang mampu kuhadiahkan padanya

Jika satu kata tak lagi cukup berarti
Apalah arti berucap…
Jika semua adalah hati
Tak perlu lagi segala yang jahat

Kegelapan yang hadir
Keabadian adalah kemenangan
Dan nyala yang bergoyangpun musnah…

Berlembar-lembar berlian ukiran pena
Begitu sia-sia
Kebodohan, kekayaan itupun lalu hilang percuma
Hingga aku rela berlepas pinggang dan menjatuhkan diri dalam jurang
Baru tahulah aku, apakah sebenar kerugian…

Apakah hijau itu masih bermakna
Dalam kebutaan langkah
Daun-daun itu adalah sementara kebenaranku

Tahulah bahwa segala yang terang adalah mentari
Bagi kami, bumi pun musnah lagi
Hirup kedamaian dari sebuah bui

Puncak langkahku tak pasti
Namun fikirku sudah terhenti
Harus menunggu apa lagi?
Ku ingin memenangkan gejolak kini

Pijakan yang sedemikian banyak kususun
Kerikil sedemikian banyak kusandung
Masih kurangkah bekalku?
Dalam pengembaraan panjang
Kurengkuh derita, masihkah aku terlena?

Jalanku, jalanku jauuuh sekali…
Sampai kulupa langkah apakah ini
Akupun tak sadar dimana aku kini
Bagaimana aku pulang...

Dinginya hujan, aku sekarang bersama guyuranya
Petir yang menyambar hanya mengganggu lamunanku saja
Aku tak bergerak lagi, menunggu tuk keluar
Setelah sekian lama dan terbang lagi…

Aku benci berisik
Aku yang tlah hilang
Dimanakah darah mendidih itu, apakah telah beku?
Takkan percaya, ini hanyalah garis lamunan yang kian menjalin namaku…

Aku juga ingin tertawa seperti mereka
Akupun tak jauh beda disisinya
Cuma dalam rimba aku harus terus bercecer darah dan pena

Dunia yang semakin goncang
Dimanakah pijakan?, kuingin segera bersandar
Dan aku menjadi yang tak terbayangkan…

Ombakku
Tak seperkasa karang itu
Sampai kapan harus kelelahan dan bergoyang dalam ketidak-pastian
Mampukah aku terus menahan bah yang berdatangan?

Kebimbangan nafas…
Aku erat terbelenggu
Sudah terlanjur menyatu
Nafas apalagi yang akan memisahkanku!…

Bimbangku, hati yang diterpa badai
Ataukah memang aku ditingglkan jiwa itu?
Aku tiada tahu, apakah ini karena kehendak masa ataupun aku harus kembali berpulang padanya
Dalam terang para bintang
Akupun menunggu untukku berlari kembali keasal…

Diam dan membatu
Sampai kapan kusembunyikan kerianganku
Sampai datang kelak temanku
Hati yang berbunga itu
Menaburkan benih dalam bisu
Jadilah aku lenyap tanpa tahu

Bahasa ini jadi demikian panjang dan kaku
Aku hanya mampu bertahan dalam tutur keutuhanku
Tak terpatahkan apapun, aku akan terus membelai hati itu
Dan akulah sendiri jiwa itu…

Kapan aku harus berkata
Sedang mulutkupun sudah lupa
Kapan aku sadar
Dalam kedamaian nafas tak terlupakan…

Dan nantikan,
Sampai hilang mati kelaparan
Sampai satu purnama baru datang
Aku akan segera berpulang
Kala bintang ramai menghilang
Kala musim semi datang
Ku tak ingin bunga-bunga berguguran
Dan bunga barupun bermunculan
Walau entah dalam kelelahan…
Karena aku harus terus berkejaran…

Nature and Beauty

Pagi Ini

Sepagi ini daun-daun kuyup oleh gerimis
Tertutup air rumputan itu
Tampak ilalang segar
Basah rumputan itu semalam kedinginan
Kini tinggal embun
Kabut-kabut putih diudara
Air menetes dari pucuk-pucuk


Go Kali, Masa Kanak-Kanak

Rawa-rawa di belasan tahun
“Ini syurga-syurga kami”
Mengejar-ngejar ikan
Ikan lari-berlarian
Kami tertawa riang

Bangau takjub menyaksikan polah kami
Tanpa jala dan pancing terus berlari
Berlari-lari di air keruh kembali
Lalu bengong sendiri
Menyaksikan bangau lebih pintar
Ini syurga kami
Syurga berenang dan bersenang-senang
Berlomba-lomba mengumpul kerang
Menertawakan ikan ketakutan
Meski pulang tanpa tangkapan
Senyum untuknya tlah kami tinggalkan
Biarkan ikan itu hanya milik syurga
Bersembunyi aman
Berdiam dikenangan…


Penyair

Wahai engkau yang fasih
Dilidahmu nestapa jadi syair
Tlah sempurna hidup kau buat puisi
Semua adalah irama rancak
Dihatimu selalu bernyanyi-nyanyi
Dimana cerita tentang kami!


Maafkan Aku Ikan

Oh ikan, tolong maafkan
Kutebar jaring diair dangkal
Dan kau tersangkut sendirian
Oh ikan, maaf kau takkan kulepaskan
Meski kau sendirian, perutku sedari pagi belum sarapan
Boleh kan kumakan!
Oh ikan, aku tahu di air keruh kau kesusahan
Mungkin ini pembebasan
Meski pergulatanmu demikian panjang
Biar kuakhiri segala penderitaan
Dan akan ada kelahiran
Janjiku padamu, bukan sembarang


Kupu-Kupu Pagi Ini

Kupu-kupu putih pagi ini
Hinggap dimelati
Mungkin kupu-kupu yang kemarin juga
Meski terbang kearah yang lain
Datang dari arah yang lain
Dan kupu-kupu kali ini
Mungkin kupu-kupu yang tadi
Dengan warna-warna baru
Membawa jiwa baru…

Kutangkap Kau

Hai angin!
Kau tlah ambil cintaku dan tak kunjung mengebalikan
Dimusim hujan kau dingin-dingin datang
Dimusim kemarau kau bawa kesejukan
Kali ini pohon basah angin!
Dimana kau?
Jejakmu makin tak kentara
Dimana kesetiaan tersimpan?
Dibawah hujan kau berbisik
Dirisik bambu…
Kutangkap kau!!!


Dunia Baru

Mari pejamkan mata pelan
Hirup nafas damai…
Sepuasnya
Dan buka mata perlahan
Dengan tatap berbinar
Rasakan dunia sungguh berbeda
Begitu indah…
Sentuhlah sinar-sinar lembut itu
Hati bermain dengan kupu-kupu
Pelangi itu jiwa dan kupu adalah roh bermain-main
Hinggap diwajah lelet dipipi
Coba lihat itu!…
Udara begitu putih
Wangi bunga semerbak warna-warni
Suara bergelombang
Tumbuhan bernafas
Lihatlah!…
Air bermain bersama kecipak ikan
Sungguh asyik…
Bumi tersenyum sepenuh hati
Kitapun ikut serta
Bersama dalam syurganya…


Kebun Syurga

Sebuah rumah terpencil tepi rawa
Bertetangga persawahan kecipak ikan
Berbatas tebing terjal pegunungan
Sepanjang mata terhampar keindahan
Disinilah ladang-ladang masih perawan
Ladang kebun penuh sayuran
Dipagari bunga yang ditanam
Tiap pagi istriku menyiram
Perhatikan kebun syurga kami
Istri selalu cantik menemani
Di buaian, bayi mungil belahan hati
Kesedihan segan datang lagi
Belum seribu usia kami
Tak hanya terpetik indah kecapi
Jauh nadi meresap wangi
Bermain ditelaga hujan mimpi
Tak puas mekar merasuk sanubari
Beranyam canda dilipat padi
Menitip benih untuk seribu tahun lagi
Dicerah jiwa-jiwa kami….


Awan-Mu

Betapa aku suka
Gumpalan awan-Mu itu tuhan
Terhampar lembut bak kapas halus beterbangan
Putihnya mensucikan tiap kepedihan
Tiap kutatap menggugurkan degup jantung
Seakan muncul di negri jauh diawan
Dan kini kutatap kau awan
Berharap tetap kau tawarkan kesejukan
Meski disini bising berlalu-lalang
Kau tetap disana, anggun dalam khayalan
Disela-sela bangunan, jauh di sepanjang jalan
Indah nian kau awan, setia selalu…
Awan, kau temanku bermesra meski penat aku dibumi
Cukup kutatap kau!
Meruntuhkan gundah-gulanaku
Dan sering pula kutitip pengaduan dikepak sayapmu, terbang kelangit
Lalu kau mulai ajak aku kembali tersenyum
Hingga aku begitu akrab denganmu
Ku basuh jiwaku dengan gumpalan teduhmu
Hingga hilang pedih nyeri hidupku
Dan tak lagi buram seperti dulu
Terus kutatap kau awan
Karna di ketinggianmu pula kutitip jiwaku…


Padang Kenangan

Padang ini semakin tampak luas saja
Luas dan datar
Disana dulu aku bermain layang-layang
Mengejar domba untuk digiring pulang
Ah, padang kenangan
Rumputmu makin subur saja
Berbunga dan tampak segar
Perbukitanmu tetap hijau
Sedang di langit, awanmu tetap seperti kapas tak mau diam
Sama seperti dulu
Padahal sudah tujuh belas tahun sejak aku meninggalkanmu
Kau tetap setia menantiku….


Kelinci Manis
Hai kelinci manis
Kemarilah
Bermain-main denganku
Ku kejar-kejar kau dan kau berlari
“Kelinci manis dimana kau!”
Kucari di semak-semak
Dan kau berlari menuju sarang
Mengadu pada ibumu
Kau adukan segala kenakalanku
Dan ibumu memarahiku
Aku jadi gemas
Padahal aku cuma mau bermain-main denganmu
Kita bersenang-senang di halaman rumahmu….


Ini Kampungku

Ini kampungku
Sungguh indah dan menyenangkan seperti dulu
Sebagaimana rumahku yang gubug bambu
Masih saja tampak anggun di mataku
Sedang gadis-gadis yang banyak bermain disini
Entah kemana kini aku tak tahu
Apalagi aku bukan milikmu yang dulu

Disinilah setelah larut malam kita saksikan pijar menyala dari bukit
Tiap rumah bak bintang
Dan bintang di langit sendiri begitu bertaburan cemerlang
Disitulah tlah kutitip masa kecilku…


Keindahan Kampungku

Dikampungku ada sebuah gunung
Sungainya jernih mengalir dari bebatuan
Datanglah bersamaku teman
Akan kutunjukkan kepadamu segala keindahan
Puisi yang terhampar

Malam-malam kita mendaki gunung
Turun setelah sunyi malam
Kita saksikan bintang-bintang gemerlapan bertaburan
Dan kunang-kunang bak lampu-lampu kecil beterbangan

Datanglah bersamaku teman, siapapun yang mau
Kita berenang ditelaga jernih pinggir hutan bambu
Dan akan kuberikan segala keindahgan dan kampungku
Sebanyak yang kau mau
Sebab masih banyak lagi keindahan didesaku…


Pagi yang Indah

Sepagi ini daun kuyup oleh embun
Malam tadi sungguh dingin menggigil
Siang panas kemarau
Basah rumputan itu kedingainan
Dan pula bukitku tampak buram
Di sepanjang mataku terhimpun daun-daun segar
Menetes air dari pucuk-pucuknya
Menjadi kabut putih di udara
Menyejukkan bumi menyambut matahari
Ah, pagi yang indah…


Kutulis Puisi Diatas Bukit

Kudekap kabut mulai menis samar-samar serupa taman indah di awan
Yang bunganya hanya pernah tumbuh di khayalan
Awan-awan adalah gugusan pulau-pulau
Dan bunyinya tersembunyi di balik tabir musim
Sedang kita manusia
Menyatu dengan salju dingin diatas lumut

Diatas bukit berembun kususun bait-bait puisi
Kubacakan disana pada barisan pohon-pohon cemara
Kuceritakan tentang pagi berpelangi yang sungguh indah
Gunung-gunung yang begitu anggun megah
Sedang pada wajahku sendiri
Pesona pagi ini tlah jauh terpatri…


Anak Gembala

Kutiup seruling ku gembalakan ternak
Kugiring gembala jauh padang
Bergabung dengan kawanan domba-domba teman penggembala

Kurangkul temanku di punggungku
Bermain-main di atas kerbau
Sebagaimana biasa untuknya kusingkap keakraban jendela hati
Kita siram kuncup-kuncup jiwa
Dan biasa bermain bermanja
Bersama-sama menatap indahnya perbukitan nun jauh disana….


Kupetik Lagu Syurga

Meneguk mentari pagi ini
Kubaca syair-syair indah yang terpahat di pualam
Sajak indah abadi penghuni tepi sungai ini
Kupetik pelan kecapi
Kuperdengarkan merdu petikan dawai-dawai
Inilah lagu syurga…
Kumainkan setinggi angan
Kuhanyutkan suara-suara hingga bermuara ke tepi laut
Sedang hayalan ditumbuhi penuh daun hijau
Kucoba petik sekali lagi
Makin melambung aku, dada tumbuh bak hutan belantara
Dan terus kupetik keindahanya seindah mungkin
Hingga angan terbang jauh tinggi
Bermukim di pulau awan tak dikenali
Bersama bidadari tak terselami
Berjalan di susunan nada-nada tinggi…


Cahaya senja

Angin semilir basah
Berbaris rapi menuju perbukitan
Menerbangkan daun-daun
Melintasi kebun membuahkan panen
Turut pula ia membawa serpih-serpih cahaya
Bak mutiara mendaki awan melintasi sabana
Hingga seluruh bukit tampak basah oleh rintik cahaya
Dan sudut lain langit membuka jendela-jendelanya
Matahari sejak tadi makin malu bersembunyi di balik gunung
Tercipta mega-mega merah
Dan cahaya senja, indaaah sekali…

Serasa bidadari berebut senyum pada sore hari ini
Kucium daun-daun cahaya yang jatuh
Dan kukecup pesonanya penuh lega
Betapa indahnya….


Mengapa Pelangi Selalu Menghiasi Hidupku

Mengapa pelangi selalu menghias hidupku
Kutanya-tanyakan itu
Mengapa kupu-kupu selalu menggoda mataku
Hinggap dipucuk kembang hati
Siapa pula itu
Diduniaku penuh perbukitan
Meresap aku pada pemandangan yang sejuk

Sebagaimana kedamain saat ini
Dunia yang tak terjangkau mata
Aku berendam di tenangnya telaga
Kualirkan pada tiap mata yang kutemu
Kuhadiahkan kasih terindahku

My Memory

My Memory

Sunyinya Malam
Rintik-rintik gerimis malam
Menebarkan kebekuan
Didalam jiwa
Kembali sulit berkobar

Kutatap langit tanpa setitikpun bintang
Rembulan tiada
Mungkin kini hilang

Diliputi hawa dingin menggigil
Malam habis diguyur hujan
Akan kubacakan syair- syair
Tuk menghias malam
Dari suara hatiku terdalam
Hanya untuk seseorang

Awal pembuka puisi BM
Saat kubaca bunga melati dikamar pesantren
Sukorejo 7 Februari 2002


Bunga melatiku

Diantara bunga-bunga ditaman hayatku
Tertutup oleh pesona dan keelokan bungaku
Tersebutlah ia, melati nan putih bersih
Suci murni bak tetesan kasih bundaku
Kecantikanmu membuat lainya iri padamu
Namun kau tetap ramah berayun seiring angin mendayu

Kini kau telah menempati taman lain yang baru
Tumbuh berkembang diantara gedung melangit biru
Diantara bunga negeri maju yang berusaha menyaingi pesonamu

Bagaimana kabarmu sekarang melati?
Apakah telah layu atau terus merekah pancarkan kesucianmu?
Setelah empat musim engkau pergi empat musim pula engkau akan kembali

Bunga melatiku…
Hidup dan kembangmu disini, akhiri pulalah hayatmu tuk hiasi dan harumi taman ini
Tanpamu melati taman ini tiada indah lagi
Karna engkau adalah keharmonisan yang menghias taman ini

Bunga Melati
Semua merindukanmu, tahukah kau melati?
Kami disini bersatu lagi hiasi taman bak syurgawi
Menyambut bunga pujaan kami
Kami hanya mengharap dikau kini tumbuh besar dengan sinar illahi
Janganlah engkau terlena melati, tapi buatlah kami tersungging senyum bangga
Atau buat kami bercucur air mata bangga
“Merpati pergi suatu saat pasti kan kembali.”
Selamat berjuang!…

Tuk sahabatku dirantau orang
Sukorejo, 21 January Y2k


Lagu Idaman

Termenung diriku bersenandung rindu
Tentang pesona lagu dalam rahasia kalbu
Dalam syair itu jiwaku melayang jauh, akankah kembali?

Heningku ...
Berjalan menghayati jalinan cerita
Terbuai dalam seluruh melody rasa
Dan aku tlah jatuh cinta

Namun kini tak pernah lagi kurasa
Nada itu tak lagi menggugah jiwa
Beku aku didalamnya
Haruskah aku meloncat dalam dua dunia?
Sedang luasnya dunia, tiada terkira

Itulah cerita simponi tentangku
Semoga tak terhapus air matamu
Akan senantiasa kuingat kau
Semoga sua kembali tuk lantunkan syair merdumu

Petiklah jiwamu bertinggi nada
Dalam kuasa indahnya bunyi bahasa
Biarlah merdumu untuk semua
Namun syahdumu hanya untukku saja

Pesan dari saudaraku Anas D.A
Sukorejo, 27 January Y2k


Pedang Cahaya Akhirat
Versi komik

Di suatu malam muncullah serangan
Menendang kesadaran bius kenikmatan
Totokan, racun pembunuh iman
Ilmu bayangan tabir pandangan

Seluruh tenaga kukerahkan melawan
Bara kesucian, baju besi benteng pertahanan
Pertempuran seribu satu malam
Harimau dan naga songsong masa depan
Menabur bunga mengelak serangan
Gelegar haliintar menelan kegelapan

Kitab wasiat sumber kekuatan
Menyangga langit jatuhkan bulan
Diamalkan, keballah badan
Dialunkan, menggetarkan alam

Seribu bintang masih kurang
Matahari menyibak awan
Membelah bumi terbangkan pegunungan
Bola api mengusir lubang hitam

Mustika sakti singgah dikuburan
Musnahkan noda tak tersisakan
Langkah sutra dan do’a penerang
Dan akupun terbang kepuncak kedamaian

Mengubah tenaga kualat tanpa alamat
Pendekar laknat yang merasa penat
Nekad mencari tongkat wasiat
Mendapatkan kunci ilmu ma’rifat

Membuka gerbang istana syurga
Bersenjatakan cahaya permata jiwa

Tuk mengobarkan jiwa muda
Sukorejo, 1 Januari 1998


Gelisah Hati

Dinginya hati tak tergoyahkan
Panas lama menghilang
Dingin tiada terkira…

Kuinggin salju ini suci
Membeku, terhampar menjadi jalan
Tiada ikatan dalam naungan apapun

Kusenandungkan syair musim-musim
Dikala kabut menyelimuti pagi
Namun tiada hujan yang membasahi bumiku lagi
Dan kurindu terus berlari, ku berteriak
Teriak sekeras mungkin
Membuyarkan fatamorgana

Kucari asa yang tiada pernah singgah
Namun tiada pula berjumpa
Impian ini takkan hilang
Bunga mimpi akan terus bersemi

Dalam lamunan kamar
Arrohwany
Yogya, 16 januari 2002


Happy 4 every Day

Menyambut hari temanku
Kusibak lipatan hati kutulis ia dengan pena-penaku
Senyumlah
Karna itu adalah obatku tiap teringat kepadamu

Jangan pula kau tutup wajahmu
Jangan hilangkan kegelisahan yang menantimu

Bunga itu adalah engkau sahabatku
Kuharap engkau terus mekar
Dan aku akan terkagum wangimu

Berbungalah dengan keriangan hati
Temukan kedamaian dalam warnamu sendiri
Dan keindahan takkan hilang…

Pesanan Annas Darul “Awan
Sukorejo, 12 Februari Y2k > Edit: Yogya, 16 Januari 2003


Dara dan Bidadari

Dara putih terbang tinggi
Jauh dan jauh hingga kesuatu negeri
Berputar ia ditanah lapang
Turun diranting diatas sebuah kolam
Melihat dirinya dalam kejernihan

Bulunya putih bersih halus sutera
Matanya indah bersinar ramah
Jalanya lincah bak menari
Kepak sayapnya lebar, melambai-lambai menggapai awan
Lalu dia terbang gemulai, indah menawan hati
Berkicau merdu menyentuh hati
Seakan mengajak semuanyapun bernyanyi
Ach begitu indahnya…
Begitu kokohnya ia terbang
Menantang angin menerjang topan
Laksana per, laksana bidadari
Apakah ia memang peri atau bidadari?

Yang lembut dan penuh arti
Namun dia tetaplah jinak-jinak merpati
Walaupun terbang jauh dan tinggi
Menyongsong terbitnya mentari bersama embun pagi


Bulletin awal Juni For Dhik Intan
Yogya, ahad 14 Juni Y2k


Siapakah Si”Intan?”

Bermula dari sikecil, hitam tiada berharga
Ia menjadi arang dan abu
Diperut bumi dilumat-lumat dan diinjak-injak
Dipanggang ia dikawah cndra dimuka
Kecil, mengkerut dan beku
Jadilah ia kristal cemerlanmg
Lewat tangan-tangan berani mati ia dirogoh keluar bumi
Muncullah ia diiris, diasah dan digosok dengan teliti
Cuma dengan pisau paling keras dan teruncinglah
Ia jualah itu
Akhirnya kemilau itu adalah “intan sejati”
Dari tangan-tangan yang penuh jiwa seni

Ia yang punya keanggunan sejati
Hanya ia yang pantas sang raja menemani…

For Dhik Intan
Yogya, ahad 14 Juni Y2k


Mimpiku

Aku pernah bermimpi tentang sebuah bintang jatuh Kusadari itu hanyalah penghibur perjalanan Aku juga ingin menatap sebuah cahaya lama-lama Walaupun aku tahu ingin senantiasa hadir bersamanya Dan aku pun harus terus berkelana Karena hanya bisa berharap dalam sebuah perjalanan panjang ”akupun akan segera berpulang..."

2002


Kami Kembali Untuk-Mu Tuhan

Kami kembali untuk-Mu tuhan
Beranjak dari wujud kami
Seluas samudera anugerah, kami bukan lautan
Tak terbendung ombak itu, bukan itu kami tuhan
Karang yang terus berpasrah, air yang menggenang
Angin yang melambai-lambai
Semua symbol hati kami
Yang ingin terus menghirup nafas kebenaran
Serta bertatap mata dalam kesejukan

Akhir 2001

Angin lalu

Anginku kembara, kau terus berlalu lalang
Mencari diam, tak jua datang
Terus berpasrah
Menemani hari dan malam
………………………………
Andaikan engkau pula angin
Ingin aku jadi burung yang selalu menemaninya
Dan aku akan terus berkicau
Mengumandangkan sejuta harapan…

(sesaat waktu melamun)


Sebuah do’a

“Yaa Allah….
Jangan Engkau biarkan kami terperangkap dalam kesesatan kami, jangan Engkau lepaskan diri kami dalam kebimbangan hati kami.
Jangan Engkau siksa jiwa kami dengan ketidak mampuan kami
Hingga Engkau seakan tidak hadir dalam nafas dan gerak kami
………………………………………………………
Duhai tuhan kami
Kami benar-benar bersyukur kepada-Mu
Dan kami sangat berharap agar Engkau menerima syukur kami sepenuhnya
Kembalikanlah kami pada yang Engkau ridhai (kehendak-Mu)………..

(Saat benar-benar terasa dekat)


Sore ceria

Medio 20001
Kesempatan
Kala datang dan terputus
Nafas tersenggal menggelitik
Tanangan ku kepal erat-erat
Begitu pedih dan gam,ang
Tatapoan bersirat bara
Aku kan bersabar…..


Desahan

Termenung aku
Terjebak dalam bisu
Lengan-lenganku mulai membatu
Hati tetap memberontak
Kenapa patah membayangi awan putihku

Namun kuyakin pada sang bintang
Cahaya tak mungkin tertelan oleh kegelapan
Ia terus bersinar
Sampai berujud debu beterbangan…..


Mampukah Diungkapkan?
Saat aku bermimpi di padang rumput
Jauh di ujung langit penuh bunga-bunga
Bak bulu-bulu halus cahaya jatuh melayang-layang
Menyapu padang akal
Hingga di bukit-bukit angan kususun kata-kata terpilih
“Akankah mampu diungkapkan!”, Tanya hatiku
Kukumpulkan puisi-puisi bermula dari rawa-rawa dengan angsa yang menemani keindahanya
“Siapa tahu di balik fajar kata”, Jelasku
Akan muncul manusia-manusia baru
Kusingkap tabir kecantikan bukit
Serta betapa megah penciptaan langit…


Memorium about jogja

Tak pernah kukira
Kelak jalan ini jadi kenangan manis berlumut
Memutar seiring roda sepedaku
Yang pernah kuparlkir di sudut jalan itu
Tumpukan buku gramedia malioboro yang sering kubaca
Shopping tempat aku membeli buku-buku
Di masjid syuhada’ pula aku berdiam tenang mencabut luka
Dimana jiwaku menggeretak, kuredam bak daun-daun gugur

Jalan beraspal ini kini bukan milikku lagi
Menjadi do’a deras sepanjang jalan
Kuhirup nafas lega
Kunikmati putih anggunya awan yang masih tersisa
Telah ku tempel pula kenangan indah di sana
Sedang tanah ini mulai sulit kupahami…


Gerimis syuhada’

Duduk aku disini
Menghitung rintik rinai hujan
Mempermainkan basah rumputan
Dan daun berhujan-hujanan
Kusadur tiap kenangan
Kadang kencang meniup pepohonan
Dan aku kadang tersenyum sendiri
Menatap satu, dua bunga gugur
Mungkin kelak aku pula kembang-kembang gugur
Dan masjid syuhada’ selalu jadi kenangan

Tentang Penulis

My Photo
Muh Ulinnuha
Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia
Silahkan kunjungi-kutip blog ini dan kunjungi blog utama saya di: http://arrohwany.multiply.com "Mohon masukan dan maaf atas sgl kesalahan & kekhilafan saya, dimasa lalu dan mohon ridha untuk kekhilafan saya di masa lalu dan yang akan datang" silahkan add di: arrohwany@yahoo.com
View my complete profile

~**Arrohwany Personal Sites**~

The Best Selected Ebook Complete