Biarlah disini cintaku timbul-tenggelam
Tergores di sajak-sajak fajar
Bersujud dicinta semalam
Lalu bemukim di segala wajah keteduhan
Inilah tengadahku cinta
Dipintu-pintu cahaya mekar
Hingga tak ada lagi nafas penghabisan
Menatap nyawa dari kejauhan
Dan do’aku resah kutengadahkan
Di Sana
Oh disana…
Di masjid bertatap muka
Tergores tanpa merah luka
Bergantung dilangit tanpa kutahu entah dimana
Akankah jatuhnya ketanah?
Disini sepi tanpa pepohonan
Tak ada usaha merindang
Hanya ada cahaya terus merapat
Meski hati berparut luka
Tak ada lagi perih disana
Terbenam tuntas…
Melabuh Jiwaku
Menguak purnama
Dimulut basah menyusun sejarah
Disajadah belum tentu tertiup rohku
Tak ada kecemasan luput
Mati kaku ungu
Nyawa dibelai jadi debu
Takkan pernah tersebut bait merdu
Melabuh jiwaku, menjauh sauh…
Cintaku diseberang jauh
Cintaku diseberang jauh
Kecantikan-Nya tak tergantikan
Takkan adalagi perahu berlabuh
Telah kutitip cintaku seluruh
Dirimba tuntas kutempuh
Manisku jauh
Berdzikir di langit tujuh
Apa yang Kita Tunggu
Apa yang kita tunggu?
Kanak tlah usai dan esok senja
Apakah kita domba-domba terakhir?
Yang akan dibantai dialtar merah tanpa senyum
Apakah kita bangsa ‘Aad atau Tsamud
Menanam kemurkaan tuhan
Jangan lagi kita terus pakai topeng berganti-ganti
Telah penuh badut-badut sirkus di dunia ini
Kita punya apa?
Pengemis punya apa?
Jangan ada lagi episode ketololan kita
Kerudung mini
Kerudung mini melambai
Bersama kaos adik tak tau malu
Jins ketat hendak dirubuh angin
Ini pula yang menyengatku!
Seakan pakaian hanya puisi dan jasad untuk yang dibumi
Mata terjagapun tersaput kabut
Apalagi gonggongan liar itu
Dimanakah dunia separuh
Hilang tersapu berserakan
Hanya layak dipembuangan
Hanya layang putus tahu pedihku
Pada selendang tak layak dipegang
Bertingkah tanpa menangis
Menjadi daun-daun gugur
Semoga masih ada hijab sempurna
Menjaga seluruh tunasnya…
Malam Seribu Pencarian
Inikah yang harus kutempuh
Setelah bintang berguguran jadi air mata
Dan perih menjerit disana
Dari masjid ke masjid menyusun malam
Menjajakan air mata ke gelas-gelas
Kembali menguap di sayap merpati putih
Kesempatan tlah tumpah tercecer, terpeleset dilantai berlumut
Belum juga apa-apa
Belum juga menjadi siapapun kita
Bukan penari yang menyeru perubahan
Bukan lilin yang membakar dirinya demi selarik terang
Apakah bulan malam ini masih bulan-bulan yang kemarin juga!
Akan kukoyak pula jika pekik nama-Mu tak datang-datang
Dibibir yang basah
Ingin cahaya itu berpendar di dada ini malam-malam
Dan di sepertiga akhir bibirku pecah-pecah
Meski setelah ini tak lagi kutemu malam
Menjadi penghuni abadi sunyi malam…
Meski Beginikah Hidup?
Biar kuraba rintik hujan
Menebar warna pelangi di langit
Gemuruh dzikir sebelum hujan
Dzikirku pada-Mu menggetarkan bumi
Kusebut nama-Mu menghidupkan kota mati
Meski beginikah hidup?
Mengalir diakal dan berakhir di denyut nadi
Setelah tidur kembali segar…
Menggetarkan bumi >>> begitu Allah maha kuasa atas segala-galanya,
Menghidupkan kota mati >>> dengan kekuasaan Allah tiada yang tidak mungkin (meski mustahil dari pemikiran lemah manusia)
Jadi maksud disini adalah menyebut akan kebesaran kekuasaan Allah
Musnahkan Api Hasrat
Didiri kita ada api hasrat
Melalap kehampaan terus berkobar
Janganlah diberi ranting kering
Ia segera melalap diri sendiri
Musnahkan diri kita sebelumnya
Ada ataupun tidak
Itu api dan kita kapas terbang tinggi
Menjadi debu-debu…
Pencarian
Bagai suara ditengah padang
Berlabuh di sayap remang-remang
Lafadz yang terukhir disana tenggelam
Terbenam di riwayat terdalam
Teremas-remas kupegang
Hati terang tanpa bayang-bayang
Siapakah Aku
Pagi ini embun menjemput
Di dahan tua yang patah
Menimpa gemetar ketakutanku
Siapakah aku? (menggigil)
……………..… (aku ketakutan)
Biarkan aku mencari-carinya sendiri
Tapi mengapa aku disini? Akupun tak tahu
Terus kucari dan mencari mengapa
Apakah aku!
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(Q.S. AL-MU’MINUN:115)
Jiwa-Jiwa yang Menari
Biarkan kita menjadi jasad
Dan roh seluruh semesta meresap
Rasakan kita roh cahaya-cahaya itu
Biarkan jasad hilang
Kita roh…
Roh yang bangkit
Beredar memutari langit
Naik, melintasi pelangi
Menari diatas angin
Terus berputar gila mewujud cahaya
Pepohonan adalah jiwa-jiwa kami
Tumbuh dari hujan rahmat
Berpendar keseluruh bumi
Jiwa kami adalah cahaya bertabur bintang
Bersemayam di abad-abad
Menjadi meteor dimata kami
Di genggaman tangan jadi mutiara
Hanya kuasa-Mu
Melingkupi seluruh penjuru langit dan bumi
Menundukkan seluruh hati
Menumbuhkan seluruh kehidupan
“Siramilah jiwa-jiwa kami dengan cahaya-Mu"
Untuk memekarkan para hati yang kami temui
Hanya dengan kemuliaan-Mu
Kami bisa kembali
Hidup Ini Pesakitan
Kadang hidup ini pesakitan
Menyiksa jiwa dengan penuh umpan
Kadang dunia lukisan
Adonan warna yang mencipta keindahan
Menyuguhi segala rayuan
Ini dunia
Tinggalkan segala harap dan keinginan
Bagi diri segala keharaman
Hanya pada-Nya segala kehalalan
Andai dunia ini putih saja
Kitapun takkan bermakna…
Bagi diri segala keharaman
Hanya pada-Nya segala kehalalan
>>> Maksudnya halal dan haram telah Allah syariatkan dengan jelas dalam islam
Maafkan kami
Maafkan kami
Dengan maaf yang tak terpahami
Sebab dosa kami tersangkut ditiap wajah
Meski kau tak mengenal kami
Maafkan kami
Dengan muka cerah,
Jangan lagi dosa kami menuai susah
Maafkan kami karna kau tak mengenal kami
Kesenyapan kami
Keterasingan kami
Maafkan kami karna kau tlah mengenal kami
Kedhaliman kami
Kesalahan-kesalahan kami
Ketidak pedulian kami
Maafkan kami
Mungkin karna kebodohan diri kami
Prasangka-prasangka yang kami buat sendiri
Sebagaimana kami seenaknya sendiri
Memang inilah kami
Keterbatasan bertumpuk-tumpuk
Mohon ikhlaskan kami
Tenang terbaring disujud-sujud illahi…
Maafkan Kelemahanku
Didarahku, kubaca bait-bait puisi-Mu
Tentang kematian yang pasti menjemput
Tentang matahari yang segera padam
Bumi yang hanya keriput kering
Hanya jika rahmat-Mu menetes
Merembes keseluruh darah
Membasuh jantung
Dzikirku abadi…
Maafkan aku tuhanku, hatiku luka…
Dihajar habis-habisan oleh dunia
Senyum Abadi
Sebongkah waktu kutendang
Tak ada lagi nafsu sebagai persembahan
Sepanjang jalan darah kupertaruhkan
Bukan sekedar celotehan anak
Setelah malam-malam penyerbuan
Kubalas dengan panah api nurani
Semoga tak mengaduh
Biar kubakar seluruh
Runtuh hingga satu cahaya cemerlang
Lalu kuberi salam
Hingga tak ada wajah berkabut
Berayun-ayun dibenaknya sendiri
Lenyaplah dupa-dupa dipatung
Mengulas kembali senyum abadi…
Lenyaplah dupa-dupa dipatung
Mengulas kembali senyum abadi…
>>> Musnahlah segala kesyirikan kembali pada tauhid
Mengharap Kasih-Nya
Mengharap kasih-Nya
Nyala berapi-api
Dimasa suram tetap Kau tawarkan segala keindahan
Kasih-Mu nyala tak padam-padam
Tak berbekas lagi kesakitan
Dimana Engkau
Sejak kumerasuki malam
Pencarian begitu melelahkan
Sebagaimana juga malam ini
Berlelah-lelah menyisir ruang kosong
Sampai terus kutemu diri-Mu
Dimana diri-Mu?
Engkau yang tak kemana tak dimana-mana
Tak dipersamakan apapun Engkau
Dicari-cari takkan ketemu
Engkau selalu bersama kami…
>>> Allah maha suci dari persamaanya dengan makhluq, segaloa sifat Allah telah jelas disebut dalam alquran
Dosaku
Dibumi yang istirah
Terpampang luka menganga
Masih pula kita memelukinya erat
Sunyi-senyap menggelinding
Didetik-detik akhir ini
Mengapa pula masih ada lelap mendengkur
Tak berjaga malam-malam
Menunjukkan hati menyedihkan
“Dosaku, dosaku, dosaku…”
Syukurku
Ya Allah…
Demi karunia-Mu yang tak pernah habis dihari-hari kemarin, kini dan esok
Kami takjub
Sebagaimana segala sujud hanya beredar satu arah pada-Mu
Ingin syukurku menyelinap hingga ke lorong-lorong rahasia
Hingga tak ada pintu bersisa
Hanya pada-Mu
Dengan sisa-sisa harapan semalam
Kucoba mengayun kaki
Walau langkah terasa berat
Dimanakah kugantung harapan
Akankah di cemara sana berdiri kuhias bintang
Hanya pada-Mu
Terus pada-Mu…
Aku Tak Tua-Tua
Aku tak tua-tua
Tlah berhenti umur dibelasan tahun
Hanya tubuh membesar
Bermain layang-layang
Melompat-lompat berjingkrakan
Meski jenggot kami panjang, dimanakah jiwa-jiwa besar
Dimana lahan kami torehkan
Sedang kini kami rebut dunia mereka
Anak-anak jadi cepat tua
Yang Terlihat Hanya Tipuan
Sebagaimana pohon-pohon
Kitapun rumput, menari-nari diterpa angin
Cinta adalah keindahan dan dunia ini cermin
Dimana kesempurnaan berpijak
Disitulah kecantikan abadi
Dan yang terlihat hanyalah tipuan
Sebab kepada-Nyalah sejati
>>> Maksudnya: meniti jalan yang telah Allah ridhai dalam syari'atnya
Pada-Mu Kutambatkan Jiwaku
Engkaulah…
Teman tidurku ketepian jauh
Mengubur dosa pilu, menjerit berteriakan
Meski bayang-bayang menghantuiku
Meski malam-malam merintih
Hanya pada-Mu
Kutambatkan jiwaku
Hari Akhir
“Silahkan lewat”, Kataku
Kerlingkan mata kebalik dunia
Rasakan bunga semerbak sebelum memejamkan mata
Takkan ada lagi sapa-menyapa
Hilang pula susunan kata-kata
Semua tlah berlabuh didermaga
Antri turun sesuai karcisnya
Dengan tangan kiri atau kanan
“Oh ya, kita naik taksi apa unta?”
>>> Maksudnya hanya pengandaian konyol bahwa kelak orang akan berkendara sesuai dengan amalan masing-masing sesuai keridhaan Allah
Akal dari nur
Percikan akal berasal dari samudranya sendiri
Sumbernya adalah cahaya-cahaya
Dijaga para bidadari
Setelah semua lumpur menetes
Air disuling berulang-ulang
Melukis seluruh lautan
Makna ini dari beribu jantung gugur
Cinta yang bersimpul dari seluruh hati
Berharap ada riwayat khaidir hadir dipemakaman
Ditunggu-tunggu rohku
Meski aku kecil…
Sendu Dosaku
Hari ini embun datang pagi-pagi
Setelah istirah malam yang lelah
Menapaki dari daun-kedaun
Mengambang dan menetes dari pucuk-pucuk
Sebutir hinggap lelet dipipi
Meleleh pasrah
Tetap tunduk menatap langit
Melepas lembut segala gelisah
Kubayar dengan tangis
Sendu dosaku…
Tunjukilah Kami
Ya Allah…
Mengapa mesti ada cermin
Apakah wajah kami penuh berlumur daki
Tak ada yang cantik?
Ya Allah…
Mengapa Engkau beri kami mata
Apakah karna ingin Kau tunjukkan kedekilan kami
Serta piciknya tatapan kami
Ya Allah, mengapa Engkau ciptakan cahaya
Apakah karna gelap hati kami
Hingga bayangan selalu mengikuti
Ya Allah, dengan kedua tangan dan kaki ini
Meski dengan apa kami berpegang?
Meski kemana kami berjalan?
Tunjukilah kami ya Allah, dalam kedunguan kami
Dalam segala kelemahan kami
>>> Maksudnya berharap senantiasa mendapatkan hidayah Allah dengan petunjuk yang sudah pasti: alquran dan assunnah dengan pemahaman yang shahih
Pasrah
Digelap yang senyap
Malam kini kian larut
Terus memanjat aku disepertiga malam-Mu
Berpasrah dari keterbatasan do’a
Ini nafasku, terus berpacu
Tanpa lelah melafadzkan nama-Mu
Takkan berhenti meski seluruh cahaya menyelimutiku
Berpendar diubun-ubun membasuh seluruh jantung
Jiwa ini milik-Mu
Dan hanya kau yang tahu
Engkau mengenal jauh sebelum adaku
Kini aku bertandang kepada-Mu
Ibarat bola sebulat itu pulalah pasrahku
Terserah apapun yang akan Kau perlakukan padaku
Tunjukilah aku pada keridhaan-Mu…
>>> Maksudnya berharap bisa senantiasa berjalan dijalan lurus yang Allah ridhai dengan sadar pada tiap jantung berdetak
Labuhan Jiwaku
Labuhanku, ini perahumu
Jangan lagi ombak menggoyahkan kemudimu
Aku ini kayu terapung dipantaimu
Genggam erat jangkarku
Biarkan aku mesra bersandar disisimu
Dikedamaian inilah tempatku
Didadamu…
Aku Tlah Berlalu
Kemarin dan hari-hari yang tlah pergi
Disisi-Mu abadi
Sebut namaku yang merindu pada-Mu
Bagaimana ingin selalu bersama-Mu
Biar tlah sirna
Hari dan hari bukan milikku lagi
Hanya kerinduanku pada-Mu
Disepoi-sepoi basah
Coba menggapai-Mu
Dan aku tlah berlalu…
Cintaku Mulai Larut
Kabut mulai menipis
Didaun hanya dingin berpelukan
Dipagi menggigil
Tertelan tubuhku dititik bumi
Bagaikan lilin pagi terkantuk-kantuk
Cintaku mulai larut
Tersiram air larut
Bermukim keasalnya…
>>> Maksudnya berharap bisa senantiasa berjalan yang benar disisi Allah ridhai dengan dengan sepenuh diri termasuk ingatan, akal, perasaan dan jiwa
Tangis Diserambi Masjid
Ditangis manja serambi masjid
Berharap cinta lebih dari sekedar belaian
Dekap-Mu kelembutan
Dari tangis kecil sesenggukan
Biar mendaki aku ke menara-menara masjid
Biar jiwa kami rebah dalam kasih-sayang-Mu…
Dimana Hati Berlampu
Belum seribu musim gugur
Tak ada lagi yang tersembunyi
Semua yang teraba mencabik-cabik
Suara-suara jadi berisik
Dimata terlalu banyak warna
Yang dicinta menjelma berhala
Kata-kata kian rapuh
Hati tak lagi bersaput cahaya
Mataharipun mulai menyerpih
“Dimana peradaban yang tertumpuk di hati-hati berlampu?”
Menanti Jaring
Dimata gelisah ini semua adalah sampah
Segala pandangan adalah buih dan kenyataan itu lautan
Kita ikan-ikan kecil kesepian
Berenang kacau
Menanti jaring
Bahagia disisi-Nya….
Naiklah Kepanahku
Naiklah kepanahku
Dari bumi menuju langit penuh cahaya
Dari cahaya itulah kita ada
Dan roh tentram disana
Meski Ia hanya bisa dikiaskan nama
Ia meliputi apapun tak tersebut apapun takkan terbatas suatu apapun…
Sabar
Cacian itu belati menikam jantung
Didada lapang mengorek mutiara berkilau
Tak ada sesal luka tertutup
Tak pula darah naik kepembaringan
Hanya rintihan dimalam panjang
Biarkan luka abadi
Tak ada artinya tertusuk duri
Disisi-Nya tlah kering
Di Rumah Suci-Mu
Dengan lutut gemetarku
Di masjid rumah-Mu
Kusujudkan pasrah derai lukaku
Berdzikir menyebut nama-Mu
Dengan hati kuseret-seret
Kuserahkan jua pada-Mu
Dilangit-Mu awan membuka pintu-pintu
Ada cerah sinar disana
Disemesta-Mu udara berlarian pergi
Mempersilahkanku mendaki lebih tinggi
Bersemayam dirembulan dan tak turun-turun lagi
“Ini asalku buat apa kegaduhan lagi!”
Melesat Bersama cahaya
Yaa Allah…
Beri kami jiwa yang selalu memanjat dan memagut
Menjadi satu dari keindahan tak terhitung
Mengucur tetes-tetes dzikir deras
Melayang-layang bersama malaikat
Berlapis membentuk gugusan pulau-pulau
Dipendar matahari menjadi pelangi
Maka jadikanlah jiwa kami melesat bersama cahaya
Menuju Engkau yang meliputi segenap cahaya
Memancar dari bait-bait senyum penuh rindu
Hati yang terus berdzikir kepada-Mu…
Oh Masjidku
Oh, masjidku…
Tercekat diantara bioskop dan super mall
“Begitu meriahkah pasar dunia ini!”
Masjidku tak dipedulikan lagi
Dimana lagi tampak masjidku!
Tak terlihat dikerumunan gedung
Dibanyangi iklan kecantikan dan pesta-pora
Apakah engkau tlah menjadi milik langit dan kami hanya laron-laron bumi
Terbuai dipesta-pesta semalam
Di konser-konser yang megah
“Masih adakah hati-hati kami terselip disana!”
Bertakbir dikeheningan malam
Menangis sesenggukan di kahyangan
Atau terseret dihiruk-pikuk mata!
Meratapi sesal diujungnya
Andai dunia hanya remang-remang belaka
Pasti cahayaku selalu bermihrab disana
Ku seru “Allah”
Kuseru kau “Allah”
Meresap hingga keseluruh darah
Kuseru lagi “Allah” berpatah-patah
Ke puncak-puncak gunung
Dikeheningan aku tengadah
Ke ujung bumi hingga kurasa aku tak kemana-mana
Hanya mendidih darahku kepada-Mu…
Tetap Kunanti
Sampai habis peluh suaraku
Tinggal hati berdengung-dengung
Dzikirku tlah kuseret jauh tinggi
Keketinggian yang takkan pernah kukenali
Mencari-cari
Mencari hingga nyawa pedih nyeri
Berharap hatiku datar
Mengharap dengan sabar
Kami zarah-zarah kecil pantaskah berbagi!
Berdiam tetap menanti
Di kedalaman masjid terus mencari
Meski Kau lebih dekat daripada urat leher kami…
Ampunilah Kami
Barangkali ini segala persembahan
Bukan kota tua tapi oase menyejukkan
Menggenang darah tak bersisa
Menjadi yang terdepan menggores sejarah
Ku coret-moret seluruh lukisan
“Cukup!”’ Kataku
Jangan lagi ada malam membayang
Masih kurangkah kepala-kepala kami jadi tumbal
Bukanya kecil jadi besar
Tapi yang kecil-kecil ini sekarang
Dan akan terus kami berikan...
Apa yang Kita Cari?
“Masihkah mengenali gerimis?”
Mau kemana kita
Apakah hanya bermain-main ditengah kabut!
Meski hujan deras…
“Apa yang kita cari?”
Di jalan ini ataukah sepanjang jalan kita lewati
Di ujung jalan ataukah jalan itu sendiri
Apa yang dicari-cari mesti abadi
Bukan jejak kotor ditanah becek
Hilang terguyur air….
Bertebaran di Bumi Mari kita berdagang
Dibumi melipat karangan bunga
Bukan tengadah menjadi tangan peminta
Mari bertebaran dibumi
Menjadi tangan masing-masing
Menyantuni yang kita sapa
Namun hati tetap pada-Nya
Khusyu’ sujud pada-Nya
Kefaqiran
Kefaqiran itu anugerah
Hanya sedikit yang selamat
Kefaqiran itu sebuah langkah
Bukan jubah yang diperlihatkan
Bukan miskin cahaya dijalan berdebu
Dan menjerit tak berjaga
“Teratai tak pernah peduli nama dan kata
Akan tetap anggun di jambangan”
Engkau Alam Begitu Luas Dunia ini besar dan kita zarah-zarah
Setetes tak bermakna dijagad ini
Tapi setitik itulah kita, alam luas tak terkira
Masih muda untuk terus dijelajahi
Disinilah yang sirna tak lagi berbentuk
Tak ada suara apapun
Tak butuh warna
Didiri kita alam sungguh luas…
Persiapkan Diri
Buanglah segala kursi dan sandaran
Kursi akan patah tidurlah dipermadani luas
Meski tetap akan digulung
Pada yang tersebut tak lagi dihitung
Walau kita sendiri matahari terkurung tanah
Diseduh air dan lumpur
Musnahkanlah diri
Bersiap menjadi cahaya-cahaya
Cemerlang diperjumpaan selanjutnya…
Tatap Wajah Sendiri
Mari kita tatap wajah sendiri
Sejelek apapun
Ini wajah kita
Penjara roh yang terkotori
Tak perlu malu lalu buru-buru kabur
Nikmatilah masa kerinduan
Betah ataupun tidak….
Kita Bukan Sekedar Lumpur
Kita bukan sekedar lumpur
Dari adonan air dan tanah ini ada persawahan
Menjelma bulir-bulir padi
Berujud syukur dibibir pak petani
Kita tumbuhkan bunga-bunga indah
Anak-anak bermain renyah
Kita adam, kemuliaan dari hakekat tertutup rapi
Meski tanpa-Nya kita rumputan
Tak perlu merendah serendah iblis
Kita tanah yang disucikan…
Kami Debu Tak Bermakna
Hanya pada-Mu kasih tiada duanya
Tanpa-Mu kami debu tak bermakna
Tanpa izin-Mu tak bisa berbuat apa-apa
Sesak nafas kami dipenjara pengap ini
Keluarkanlah kami dari berhala-berhala kami
Dari keterbatasan jasad
Dari kekufuran diri kami
Disini sempit lagi sepi…
Kepada Siapa Harap dan Takut
Seorang anak bertanya pada bapaknya
“Bapak, kenapa ada hujan?”
Apakah para malaikat sedang pesta pora dan piala-piala tumpah
“Bapak, kenapa ada kemarau?”
Apakah para malaikat sedang membuat api unggun sehingga kita kepanasan
Ranting-ranting kering burung tak berkicau
Dilangit biru awan pelan berarak
Apakah seperti mata ini!
Larut tak berkedip sepanjang malam
“Bapak, kepada siapa harap dan takut kuberikan?”
>>> Pendapat Syaikh Ibn Taimiyyah tentang ibadah:
“Barangsiapa menyembah Allah dengan cinta saja maka ia sungguh zindiq
Barangsiapa menyembah Allah dengan harap saja maka ia adalah murji’
Barangsiapa menyembah Allah dengan takut saja maka ia haruri
Seorang yang mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketigannya, takut, harap dan cinta
Menjadikan ketiganya sebagai kekuatan jiwa yang tak habis-habis dalam menghamba pada Allah"
Semua Roh Berjabatan
Tiap jiwa terjalin roh
Kita jiwa
Roh-roh saling berpendar
Terang bersahutan
Buram, roh bergelantungan
Beradu pengalaman meski tak ingin
Menang atau kalah
Hanya pada cermin terpantul warnanya
Setelah kejernihan saja
Dimanapun kita
Iman takkan pudar….
Dzikir ini kesejukan
Dzikir ini kesejukan
Berlepas dari segala angan
Bergerombol bagai budak sahaya
Melempar-melempar berhala
Menyebut nama-Nya tak cukup-cukup
Allah sungguh nyata, tak ada sedikitpun keraguan pada-Nya
Mari bersaksi akan ada-Nya, mengesakan-Nya
Sahabat sejati
Banyak jalan kita tempuh
Melangkah tak berparut luka
Duduk kasat mata, berjabat dalam ruh
Berpegangan erat dikelebat cahaya
Kita telan duka bersama-sama
Ini kita
Diserambi masing-masing
Bersama-sama kepada-Nya…
Terimalah Taubatku
Dalam dahaga menggigil
Aku bayangkan ada orang kepanasan berendam digunung
Sedang langit masih menggeliat
Menggulung-gulung mega berdentum
Berlari-lari aku dipilar cahaya
Naik ke pemukiman awan
Menyingkap suara cemas syurga
Aku bermandi disana
Di air terjun pelangi bidadari
Menjadi kupu-kupu digerimis embun
Disinilah adzan bergema
Di subuh abadi setelah penaklukan malam
Bercermin langit dilaut rindu
Banyak buih dosaku kulayarkan kesamudra-Mu…
“Boleh kugenggam dzikirku?”
Hanya rindu menyentuh langit-Mu
Sujud memutih bersama tebing cahaya-Mu
Meski aku tetap berendam dibumi-Mu…
“Kaki kami mengakar dibumi
Ubun-ubun menjangkau seluruh langit
Senyum menyapa seluruh jiwa
Hatiku hanya pada-Mu…
Dengan Menderita Kita Diberi
Dengan menderita kita diberi
Ini hidup, mengembang dengan mati
Niscaya kita tahu
Berguguran tak mati-mati
Tak tergerak apaun
Dalam cinta-Nya
Takkan pernah diajarkan tak ditemukan dimanapun…
Menarilah Dzikir Kami
Menarilah dzikir-dzikir kami
Membasuh kabut malam berbintang
Kami layangkan kau siang-malam
Sebagai matahari dan bulan
Hajat rindu kulabuhkan
Selalu sujud
Mari meratap bagai seruling
Tunduk layaknya belalang
Meski jasad mengering
Mari tetap tegak berdiri
Meski roh tetap sujud
Dimanapun kita disisi-nya selalu khusyu’
Mutiara jiwa
Jiwa kami cahaya
Memancar dari terang mutiara
Mutiara kami adalah jiwa
Jernih berkilau di lapang dada
Memancar di wajah-wajah
Putih cemerlang sinarnya
Di dada makin bergelora
Luas melingkupi samudra raya
Berpendar sibuk hingga dikedalaman tak dikenal
Memancar hingga ketinggian tak berujung
Ini jiwa kami
Jiwa berapi-api
Nyala dihadirat-Nya abadi
Tak padam-padam kami berkobar tak mati-mati
Pesona rasulullah
(dari mimpi)
Kucoba tatap wajah cemerlang
Sekuat yang kumampu
Namun apalah aku
Takkan sanggup menerima pesonamu
Engkau matahari
Sedang aku tak sebanding debu-debu
Akan menyerpih aku
Aku musafir lewat tak tahu arah kemana
Di teduh sinarmu sebuah petunjuk
Meski aku takluk menatap kemuliaanmu
Akan kucoba meski jauh bumi langit
Aku ingin menjadi salah satu diantara sahabat dan pencintamu (begitu ingin)
Mejadi salah satu penghuni damai sinar matamu
Kecemerlangan yang menyinari seluruh bumi
Sedikit saja suara lembutmu
Mampu meruntuhkan jantungku
Itulah kata-kata yang harus kupegang erat
Halus suaramu deras meluncur ke ulu hati
Tergenang hatiku hingga meluap
Betapa bahagianya…
Andai wajahmu itu selalu lekat-lekat dimataku
Hingga tak tersisa sedikitpun
Meski hanya mimpi
Tak terpisahkan
Kuharap seakan engkau selalu hadir
Menemani sepiku sampai kapanpun
(Yaa Allah kabulkanlah harapku…)
>>> Berharap banyak mengilmui hadist dan mengamalkanya
Ini hidup
Ini hidup
Tak selalu lebam
Tak ada keluh masa lalu dan degup jantung kalah
Koran pagi, kita biasa menghiasinya dengan secangkir kopi
Ini kopi kita teman, manis ataupun pahit
Tak ada janji syurga kebetulan
Tak ada ciptaan tersia-siakan
Hanyalah kita mata suka terpejam
Sedang surat petunjuk tlah di kirimkan
Lewat utusan semulianya teladan
Surat itu berisi selaput cahaya
Kelak mengelupas dan kita berendam di kedalamanya
Tinggal kita, “Maukah jiwa kita mencebur kekedalamannya?”
Ampunilah Aku
Tiap kali larut hatiku
Kuraba tiap kata dari-Mu
Kuresapi kedalaman firman-firman suci-Mu
Kubasuh jiwa buramku
Kubersimpuh di hadap-Mu tuhanku
Kubenamkan wajah penuh dosaku
Kutanam hati pada sujud-sujudku
Betapa lemah diriku yaa Allah
Duhai ampunilah daku…
Pangkal cinta
Pangkal cinta ini adalah
Pertemuan antara bumi dan langit
Di mana rasul mulia di utus
Demikian pula kita
Mengikuti jejak-jejak
Sibuk dengan tangan masing-masing
Jiwa tetap shalat khusyu’
Mengikuti jejak-jejak >>> mengikuti sunnah rasul
Di Sungai Rindu
Di sungai rindu masjidku ini
Rohku hanyut terbang tinggi
Menjadi cahaya terang berkabut
Merangkai do’a-do’a…
Dzikir seirama jangkerik klasik kulantunkan
Mampir sejenak di risik bambu, melesat tinggi jauh ke langit
Menjadi lelap-lelap bertebaran
Memancar dari mata diam sayu…
Di wudhu khusyu’mu
Di sini, dibasuh wudhu khusyu’mu
Menghirup berkejaraan ayat-ayat al quran
Bukan bait syair didaun lontar
Dirisau yang amat dahaga
Membasuh hati dengan manikam cahaya
Bersayap-sayap takkan pernah patah
Biarkan ia menetes dipadang luas
Berbasuh dengan peluh
Dan kembali kepangkuan setelah lelah
“Laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah…”
Nyawa bergetar…
Kurindu Lantunan Ayat-Mu
Kurasa disinilah keramaian pasar malam
Sedang dunia kian sepi
Hilang kemana anak senja asyik mengaji!
Dimana lagi lidah-lidah basah bershalawat nabi!
Lorong jiwa terkurung seribu sunyi sepi
Akankah dada lapang mata bersinar kutemu
Tiap kuterpesona bukannya sinar hati, hanya polesan make up
Bukan surban tapi topi
Sudah terlalu muak aku, senyum-senyum di jual
Oh dimanakah lagi hati
Apakah tlah tercecer tak terangkai lagi
Siang ini aku sungguh rindu
Merindu kembali dihari itu
Ayat-ayat suci-Mu di lantunkan penuh merdu
Dan anak-anak polos asyiik menghafal juz terakhir al quran-Mu
Allah-lah Pemilik Segala Kebenaran
Dunia ini takkan pernah melingkupi-Mu
Engkau kebenaran, yang Kau cipta takkan termuat akal
Di senja menguning Kau tutup tabir
Jiwa-jiwa sendiripun kami takkan pernah tahu
Apalagi tentang Engkau
Tak semua cahaya di jangkau sudut mata
Imaginasi hanyalah bayang-bayang
Angan-angan takkan pernah mengubah kenyataan
Sejumput mata tak bisa mengemukakan kebenaran
Karna kebenaran bukan sekedar hasrat akal
Ia punya nama sendiri, dan hanya kadang-kadang kita mengingatnya
Hanya lewat kalam-Mu kami mengetahui
Dan kami berlindung dari kebodohan diri kami sendiri
Tiang Masjid Itu Lift
Kubalut warna pelangi
Yang tiap indah warnanya takkan bisa disebut
Kulukis indah diatas kubah
Untuk tangga kami menuju langit
Siapa tahu tiang-tiang masjid itu lift
Di langit ada kereta, petir adalah pendakiannya
Mencapai puncak tak berujung
Masih dijiwa kita, di masjid tak terhitung
Ucapkan “Laa Ilaaha Illallah”
Kuceritakan padamu tentang keajaiban
Banyak nama-nama dan hati kita adalah yang termanis
Cinta hadir keterbatasan musnah
Di cermin suci memantul sujud
Hijrah dari bayangan menuju perwujudan
Disinilah segala hijab tersingkir
Ucapkanlah “laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah….”
Tinggalkan segala persekutuan
Hanya pada-Nya semua bermakna
Pangkal Cinta Ini
Pangkal cinta ini
Bukan dipermukaan, akhirnya meliputi seluruh keabadian
Jika dikatakan takkan pernah benar
Jika ditulis takkan pernah cukup
Tak bisa pula diukur
“Harus dengan apa diungkap!”
Rahasia tetap berkabut
Karna dari cinta awal ini tak terbatas
Meski hamba miskin
Tetap sujud…
Engkau yang Satu
Wahai engkau yang Satu
Tak berbilang tak berparuh
Nama-nama-Mu kebenanran, kami menyebutnya dalam alquran
Tak tersamakan apapun
Tak tersekutukan siapapun
Tak punya lawan tak butuh kawan
Engkau mencipta waktu
Engkau takkan terbatasi olehnya
Engkau mencipta ruang
Engkau suci dari segala keterbatasan
Engkau melingkupi segala sesuatu
Bukanya engkau yang dilingkupi sesuatu
Tanpa sebab Engkau mencipta segala sesuatu
Semua hanyalah kehendak-Mu
Tak ada kapan, dimana dan bagaimana bagi Engkau
Sedang kami lemah
Sungguh terbatas kami menyebut-Mu
Takkan sanggup lidah kami
Sedang menyebut-Mu kami perlu lagi bersyukur atas karunia-Mu…
Iman adalah nikmat tertinggi
Maafkan kami tuhan
Engkau takkan terbatas ruang
Hati kamilah yang sering membuatmu berbatas ruang
Lindungi diri kami dari segala kekufuran