Sunyinya Malam
Rintik-rintik gerimis malam
Menebarkan kebekuan
Didalam jiwa
Kembali sulit berkobar
Kutatap langit tanpa setitikpun bintang
Rembulan tiada
Mungkin kini hilang
Diliputi hawa dingin menggigil
Malam habis diguyur hujan
Akan kubacakan syair- syair
Tuk menghias malam
Dari suara hatiku terdalam
Hanya untuk seseorang
Awal pembuka puisi BM
Saat kubaca bunga melati dikamar pesantren
Sukorejo 7 Februari 2002
Bunga melatiku
Diantara bunga-bunga ditaman hayatku
Tertutup oleh pesona dan keelokan bungaku
Tersebutlah ia, melati nan putih bersih
Suci murni bak tetesan kasih bundaku
Kecantikanmu membuat lainya iri padamu
Namun kau tetap ramah berayun seiring angin mendayu
Kini kau telah menempati taman lain yang baru
Tumbuh berkembang diantara gedung melangit biru
Diantara bunga negeri maju yang berusaha menyaingi pesonamu
Bagaimana kabarmu sekarang melati?
Apakah telah layu atau terus merekah pancarkan kesucianmu?
Setelah empat musim engkau pergi empat musim pula engkau akan kembali
Bunga melatiku…
Hidup dan kembangmu disini, akhiri pulalah hayatmu tuk hiasi dan harumi taman ini
Tanpamu melati taman ini tiada indah lagi
Karna engkau adalah keharmonisan yang menghias taman ini
Bunga Melati
Semua merindukanmu, tahukah kau melati?
Kami disini bersatu lagi hiasi taman bak syurgawi
Menyambut bunga pujaan kami
Kami hanya mengharap dikau kini tumbuh besar dengan sinar illahi
Janganlah engkau terlena melati, tapi buatlah kami tersungging senyum bangga
Atau buat kami bercucur air mata bangga
“Merpati pergi suatu saat pasti kan kembali.”
Selamat berjuang!…
Tuk sahabatku dirantau orang
Sukorejo, 21 January Y2k
Lagu Idaman
Termenung diriku bersenandung rindu
Tentang pesona lagu dalam rahasia kalbu
Dalam syair itu jiwaku melayang jauh, akankah kembali?
Heningku ...
Berjalan menghayati jalinan cerita
Terbuai dalam seluruh melody rasa
Dan aku tlah jatuh cinta
Namun kini tak pernah lagi kurasa
Nada itu tak lagi menggugah jiwa
Beku aku didalamnya
Haruskah aku meloncat dalam dua dunia?
Sedang luasnya dunia, tiada terkira
Itulah cerita simponi tentangku
Semoga tak terhapus air matamu
Akan senantiasa kuingat kau
Semoga sua kembali tuk lantunkan syair merdumu
Petiklah jiwamu bertinggi nada
Dalam kuasa indahnya bunyi bahasa
Biarlah merdumu untuk semua
Namun syahdumu hanya untukku saja
Pesan dari saudaraku Anas D.A
Sukorejo, 27 January Y2k
Pedang Cahaya Akhirat
Versi komik
Di suatu malam muncullah serangan
Menendang kesadaran bius kenikmatan
Totokan, racun pembunuh iman
Ilmu bayangan tabir pandangan
Seluruh tenaga kukerahkan melawan
Bara kesucian, baju besi benteng pertahanan
Pertempuran seribu satu malam
Harimau dan naga songsong masa depan
Menabur bunga mengelak serangan
Gelegar haliintar menelan kegelapan
Kitab wasiat sumber kekuatan
Menyangga langit jatuhkan bulan
Diamalkan, keballah badan
Dialunkan, menggetarkan alam
Seribu bintang masih kurang
Matahari menyibak awan
Membelah bumi terbangkan pegunungan
Bola api mengusir lubang hitam
Mustika sakti singgah dikuburan
Musnahkan noda tak tersisakan
Langkah sutra dan do’a penerang
Dan akupun terbang kepuncak kedamaian
Mengubah tenaga kualat tanpa alamat
Pendekar laknat yang merasa penat
Nekad mencari tongkat wasiat
Mendapatkan kunci ilmu ma’rifat
Membuka gerbang istana syurga
Bersenjatakan cahaya permata jiwa
Tuk mengobarkan jiwa muda
Sukorejo, 1 Januari 1998
Gelisah Hati
Dinginya hati tak tergoyahkan
Panas lama menghilang
Dingin tiada terkira…
Kuinggin salju ini suci
Membeku, terhampar menjadi jalan
Tiada ikatan dalam naungan apapun
Kusenandungkan syair musim-musim
Dikala kabut menyelimuti pagi
Namun tiada hujan yang membasahi bumiku lagi
Dan kurindu terus berlari, ku berteriak
Teriak sekeras mungkin
Membuyarkan fatamorgana
Kucari asa yang tiada pernah singgah
Namun tiada pula berjumpa
Impian ini takkan hilang
Bunga mimpi akan terus bersemi
Dalam lamunan kamar
Arrohwany
Yogya, 16 januari 2002
Happy 4 every Day
Menyambut hari temanku
Kusibak lipatan hati kutulis ia dengan pena-penaku
Senyumlah
Karna itu adalah obatku tiap teringat kepadamu
Jangan pula kau tutup wajahmu
Jangan hilangkan kegelisahan yang menantimu
Bunga itu adalah engkau sahabatku
Kuharap engkau terus mekar
Dan aku akan terkagum wangimu
Berbungalah dengan keriangan hati
Temukan kedamaian dalam warnamu sendiri
Dan keindahan takkan hilang…
Pesanan Annas Darul “Awan
Sukorejo, 12 Februari Y2k > Edit: Yogya, 16 Januari 2003
Dara dan Bidadari
Dara putih terbang tinggi
Jauh dan jauh hingga kesuatu negeri
Berputar ia ditanah lapang
Turun diranting diatas sebuah kolam
Melihat dirinya dalam kejernihan
Bulunya putih bersih halus sutera
Matanya indah bersinar ramah
Jalanya lincah bak menari
Kepak sayapnya lebar, melambai-lambai menggapai awan
Lalu dia terbang gemulai, indah menawan hati
Berkicau merdu menyentuh hati
Seakan mengajak semuanyapun bernyanyi
Ach begitu indahnya…
Begitu kokohnya ia terbang
Menantang angin menerjang topan
Laksana per, laksana bidadari
Apakah ia memang peri atau bidadari?
Yang lembut dan penuh arti
Namun dia tetaplah jinak-jinak merpati
Walaupun terbang jauh dan tinggi
Menyongsong terbitnya mentari bersama embun pagi
Bulletin awal Juni For Dhik Intan
Yogya, ahad 14 Juni Y2k
Siapakah Si”Intan?”
Bermula dari sikecil, hitam tiada berharga
Ia menjadi arang dan abu
Diperut bumi dilumat-lumat dan diinjak-injak
Dipanggang ia dikawah cndra dimuka
Kecil, mengkerut dan beku
Jadilah ia kristal cemerlanmg
Lewat tangan-tangan berani mati ia dirogoh keluar bumi
Muncullah ia diiris, diasah dan digosok dengan teliti
Cuma dengan pisau paling keras dan teruncinglah
Ia jualah itu
Akhirnya kemilau itu adalah “intan sejati”
Dari tangan-tangan yang penuh jiwa seni
Ia yang punya keanggunan sejati
Hanya ia yang pantas sang raja menemani…
For Dhik Intan
Yogya, ahad 14 Juni Y2k
Mimpiku
Aku pernah bermimpi tentang sebuah bintang jatuh Kusadari itu hanyalah penghibur perjalanan Aku juga ingin menatap sebuah cahaya lama-lama Walaupun aku tahu ingin senantiasa hadir bersamanya Dan aku pun harus terus berkelana Karena hanya bisa berharap dalam sebuah perjalanan panjang ”akupun akan segera berpulang..."
2002
Kami Kembali Untuk-Mu Tuhan
Kami kembali untuk-Mu tuhan
Beranjak dari wujud kami
Seluas samudera anugerah, kami bukan lautan
Tak terbendung ombak itu, bukan itu kami tuhan
Karang yang terus berpasrah, air yang menggenang
Angin yang melambai-lambai
Semua symbol hati kami
Yang ingin terus menghirup nafas kebenaran
Serta bertatap mata dalam kesejukan
Akhir 2001
Angin lalu
Anginku kembara, kau terus berlalu lalang
Mencari diam, tak jua datang
Terus berpasrah
Menemani hari dan malam
………………………………
Andaikan engkau pula angin
Ingin aku jadi burung yang selalu menemaninya
Dan aku akan terus berkicau
Mengumandangkan sejuta harapan…
(sesaat waktu melamun)
Sebuah do’a
“Yaa Allah….
Jangan Engkau biarkan kami terperangkap dalam kesesatan kami, jangan Engkau lepaskan diri kami dalam kebimbangan hati kami.
Jangan Engkau siksa jiwa kami dengan ketidak mampuan kami
Hingga Engkau seakan tidak hadir dalam nafas dan gerak kami
………………………………………………………
Duhai tuhan kami
Kami benar-benar bersyukur kepada-Mu
Dan kami sangat berharap agar Engkau menerima syukur kami sepenuhnya
Kembalikanlah kami pada yang Engkau ridhai (kehendak-Mu)………..
(Saat benar-benar terasa dekat)
Sore ceria
Medio 20001
Kesempatan
Kala datang dan terputus
Nafas tersenggal menggelitik
Tanangan ku kepal erat-erat
Begitu pedih dan gam,ang
Tatapoan bersirat bara
Aku kan bersabar…..
Desahan
Termenung aku
Terjebak dalam bisu
Lengan-lenganku mulai membatu
Hati tetap memberontak
Kenapa patah membayangi awan putihku
Namun kuyakin pada sang bintang
Cahaya tak mungkin tertelan oleh kegelapan
Ia terus bersinar
Sampai berujud debu beterbangan…..
Mampukah Diungkapkan?
Saat aku bermimpi di padang rumput
Jauh di ujung langit penuh bunga-bunga
Bak bulu-bulu halus cahaya jatuh melayang-layang
Menyapu padang akal
Hingga di bukit-bukit angan kususun kata-kata terpilih
“Akankah mampu diungkapkan!”, Tanya hatiku
Kukumpulkan puisi-puisi bermula dari rawa-rawa dengan angsa yang menemani keindahanya
“Siapa tahu di balik fajar kata”, Jelasku
Akan muncul manusia-manusia baru
Kusingkap tabir kecantikan bukit
Serta betapa megah penciptaan langit…
Memorium about jogja
Tak pernah kukira
Kelak jalan ini jadi kenangan manis berlumut
Memutar seiring roda sepedaku
Yang pernah kuparlkir di sudut jalan itu
Tumpukan buku gramedia malioboro yang sering kubaca
Shopping tempat aku membeli buku-buku
Di masjid syuhada’ pula aku berdiam tenang mencabut luka
Dimana jiwaku menggeretak, kuredam bak daun-daun gugur
Jalan beraspal ini kini bukan milikku lagi
Menjadi do’a deras sepanjang jalan
Kuhirup nafas lega
Kunikmati putih anggunya awan yang masih tersisa
Telah ku tempel pula kenangan indah di sana
Sedang tanah ini mulai sulit kupahami…
Gerimis syuhada’
Duduk aku disini
Menghitung rintik rinai hujan
Mempermainkan basah rumputan
Dan daun berhujan-hujanan
Kusadur tiap kenangan
Kadang kencang meniup pepohonan
Dan aku kadang tersenyum sendiri
Menatap satu, dua bunga gugur
Mungkin kelak aku pula kembang-kembang gugur
Dan masjid syuhada’ selalu jadi kenangan

0 komentar:
Post a Comment