"Merangkai kata dalam tiap perjalanan hidupku"

Sunday, April 30, 2006

Heroisme and Patriotisme

Kupercayakan Padamu

Kupercayakan Padamu
Kujabat tangan penuh hangat
Sujud syukur pada-Nya
Kutitip rindu berduka
Didada beriman bersenandung tasbih
Kuserahkan gelisah tanah-airku…


Hampir Musnah Indah Bumiku

Hampir musnah indah bumiku
Penindasan disanjung bumi dipecah-pecah
Seakan tiap warna kulit punya sekat
Seakan tiap bangsa musuh bebuyutan
Apa arti negara?
Apakah mengkotak-kotakkan lewat bendera!
Mungkin matahari sudah terlalu tua
Tak lagi dijenguk pengembara terasing
Sayap-sayap beterbangan
Awan-awan tak lagi berani pulang
Karna hutan hangus terbakar
Lagu-lagu bendera telah luntur menjelma serigala
Didekap sampai kehabisaan nafas
Dimana kini jiwa berapi-api
Apakah ikut mencicipi kisah-kisah lama
Oh dimanakah ayat yang dikumandangkan penuh arti…


Untuk Sebuah Negri

Kubuat puisi untukmu negri
Dihutan-hutan berkobar
Dimulut para wakilmu keterlaluan
Dimakam para pahlawan
Pada tunas-tunasmu layu
Setelah kau menangis sepanjang malam
Tak ada lagi lelap tidurmu…
Kuceritakan kisah nina-bobok khusus buatmu
Lupakan semua gelisah malammu
Tentang korupsi dan penindasan
Tak ada lagi yang menjegal mimpimu
Tak ada air bocor dari atap
Dimusim berlaluan pergi
Menjadi humus berlapis-lapis
Tumbuhkan kembali tunas-tunas subur
Zamrud bersinar kembali
Bahkan melintasi peredaran bumi
Mimpi!
Ini bukan mimpi
Ini tentang jantung aqidah kami
Tak ada bangsa apapun
Hanya bumi yang dipasrahkan
Bercinta lewat buku dan internet
Bukan pada panas tubuh sendiri
Dihati semua musim…


Tak Perlu Lagi Perkenalan

Tak perlu lagi perkenalan nama
Namamu bisa kubaca dari kemeja
Dimana nama?
Ketika pencakar langit membumbung keangkasa
Padang-padang sahara hanya ada di layar kaca
Kita begitu kuasa hingga menjarah nyawa
Tak ada artinya Irak Palestina
Di kursi senja
Hanya setan yang rindu segera ke neraka


Buat bangsa-bangsa angkuh

Beri kami sekuntum seroja
Bukan angkuhnya patung liberti
Informasi kau buat dongeng-dongeng
Peradaban kau uapkan keudara
Hati di sepatu lars terinjak
Semua hanya setan-setan belaka!”, Katamu geram
Seakan kebenaran itu milikmu
Yang buram kau buat hitam lebih pekat
Yang bersenjata kau buat silau
Layakkah kau tikam seluruh dunia!
Hingga darah mengalir dari gunung-gunung
Jantung bumi terbatuk-batuk
Siapakah yang tak ingin hidup sejahtera
Siapa tak ingin hidup tanpa derita?
Bukan dengan mencekik bangsa lain
Bukan dengan menyingkirkan peradaban lama atau baru
Bukankah kegelapan muncul dari balik cahaya?
Lalu siapa yang mengklaim wakil cahaya di timur dan barat!…
Dunia ini bukan taman syurga
Hanya kebun berharap mekar disana
Tak mungkin ada kekuatan sempurna
Kesempurnaan hanyalah milik-Nya


Derita Sebuah Bangsa

Oh tuhanku
Bumiku bersimbah darah
Udara-udara kacau
Empat windu leluhurku tergadai
Kini meski apa kami menjerit
Ditangan cucu-cucu sendiri
Anak preman cucu perampok
Pejabat-pejabat korup
Sudah terlampaui pedih luka kami
Meski dengan apa lagi?…
Hanya pada-Mu kami meratap
Hanya Engkau penunjuk kebaikan kami…


Mahasiswa di Tanah Rantau

Disini
Digedung penuh tumpukan buku
Bukan sibuk ngobrol dengan tembok-tembok
Bukan sekedar menguasai jalan sempit
Kami bukan itu
Bukan berhala berharap sesajian
Bukan sekedar nama keras-keras diteriakkan
Kami kafilah penuh muatan
Bercengkrama tentang tugas dan kebenaran
Mata kita api, hati bukan sekedar lautan
Bertemu dipengahabisan nan tenang
Dan panen musim ini membayar hutang


Buang Jauh Sepatumu

Bukan lagi lidah menghafal
Bukan pula zaman otak seragam
Buang jauh-jauh sepatumu
Buang seragam yang memberatkan
Dengan apapun kita layak belajar
Meski hanya bercahya bulan
Kepada langit buku telah dihamparkan
Kepada bumi prasasti-prasasti ditorehkan
Pegang erat-erat bukumu ditangan
Atau kita dilindas bersama kerikil dan aspal…


Bila habis waktuku

Bila habis waktuku
Entah kapanpun…
Ingin langkahku ini warisan terbaik
Kuberikan pada siapapun kujumpa
Kuberi degup jantung pada siapapun meminta

Bila genap waktuku…
Ingin kulepas mutiara yang ada
Yang payah terendam dikedalaman samudera
Meski payah kilaunya
Ingin kuserahkan semua kupunya

Bila sampai waktuku
Kuingin kata-kataku menjelma samudera
Kubasuh putus asa
Kugosok mata hingga cemerlang
Kupenuhi semua hati…


Tangis Bundaku

Seraut wajah memutih sendu
Berbasuh air mata, oh ibu…
Menganak sungai dukamu empat windu
Kau titip rindu disayap-sayap mengering
Kini ditikam anak sendiri…

Oh ibu betapa perih aku
Tak tega aku bu…

Jangan terus kau tepuk air matamu
Usir saja anak tak berbakti itu Bu…
Kutidur merajuk disampingmu


Sesal

Sekali lagi aku menyesal
Bukan hanya menggugat ketidak-berdayaan
Menatap para dhalim bersorak-sorai kemenangan
Berebutan sejarah penuh genangan darah
Hati kami hancur teman
Diinjak sepatu lars
Perih…


Maafkan Kerapuhanku

Maafkan kami tuhanku
Lagu-lagu cinta tlah jadi berhala
Tontonan syahwat membuat anak dipaksa lahir sebelum waktunya
Perih hati kami tuhan, tersayat-sayat
Maafkan kami
Tangan kami begitu rapuh
Maafkan...

0 komentar:

Tentang Penulis

My Photo
Yogyakarta, DI Yogyakarta, Indonesia
Silahkan kunjungi-kutip blog ini dan kunjungi blog utama saya di: http://arrohwany.multiply.com "Mohon masukan dan maaf atas sgl kesalahan & kekhilafan saya, dimasa lalu dan mohon ridha untuk kekhilafan saya di masa lalu dan yang akan datang" silahkan add di: arrohwany@yahoo.com

~**Arrohwany Personal Sites**~

The Best Selected Ebook Complete